Artikel

Belajar Tak Kenal Lelah, Usaha Tak Kenal Menyerah

Jalan Pramuka, Jakarta, 26 November 2016

Warga Jakarta pasti tak asing dengan "Waty Salon" yang berlokasi di Jalan Pramuka No. A/390, Jakarta Pusat. Salon ini tidak sekadar melayani sanggul, melainkan juga penyewaan kostum tradisional dari seluruh penjuru Indonesia. Berbincang-bincang dengan anak nomor dua dari Hj. Siti W. Sampurno, yang bernama Hj. Wiwin Sampurno sungguh menyenangkan. Bu Wiwin, begitu panggilan akrabnya, menceritakan bahwa salon Waty telah berdiri sejak tahun 1969 di Jalan Pramuka. Saat itu, Ibu Siti masih bekerja di Universitas Indonesia sambil mengikuti kursus salon di depan rumahnya. Ketika sudah membuka salon, ada salah seorang pelanggan yang bertanya apakah salon tersebut juga menyewakan baju bodo khas Sulawesi. Dengan mantap, Ibu Siti menjawab, "Iya." Keesokan harinya, Ibu Siti berbelanja kain dan pernak-pernik untuk selanjutnya ia jahit sendiri menjadi baju Bodo. Baju itulah yang selanjutnya disewakan kepada pelanggan salon. 

Berawal dari kenekatan itu, koleksi baju tradisional salon Waty terus bertambah. Semua baju tradisional itu dijahit sendiri oleh Ibu Siti dan putri-putrinya, termasuk Bu Wiwin. Jika Ibu Siti berkunjung ke suatu daerah, maka ia akan membeli seperangkat baju tradisional daerah itu, dan selanjutnya diperbanyak sendiri lalu dipercantik dengan hiasan-hiasan khas, seperti manik-manik, bulu-bulu, benang emas, dan sebagainya, yang membuat baju tradisional itu makin indah. Tentu saja, penambahan hiasan itu tidak menyimpang dari pakem baju tradisional yang asli.

Kebesaran Salon Waty juga tidak lepas dari bimbingan Kementerian Pariwisata sewaktu dijabat oleh Joop Ave. Ibu Siti kerap dikirim ke mancanegara untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui baju tradisionalnya melalui berbagai even internasional. Bimbingan dari pemerintah tersebut dimanfaatkan oleh Ibu Siti untuk semakin fokus mengembangkan usaha, sehingga membuatnya berhenti dari pekerjaannya di Universitas Indonesia.

Ibu Siti W. Sampurno memiliki 5 anak, terdiri atas 3 putri dan 2 putra. Saat ini Ibu Siti masih memantau perkembangan salonnya di pagi hari, dengan bantuan anak-anaknya. Kerjasama yang harmonis antaranggota keluarga membuat usaha ini semakin maju dan eksis di tengah persaingan bisnis salon. Oleh karena permintaan baju tradisional yang terus tinggi, membuat Salon Waty hanya fokus ke sanggul dan penyewaan kostum tradisional. Sementara, gunting rambut, creambath, facial, dan yang lainnya sudah lama ditinggalkan karena keterbatasan SDM dan waktu.

Bu Wiwin menjelaskan, Salon Waty memiliki prosedur tersendiri yang membuat inventarisasi dan perawatan koleksi baju tradisional begitu tertata rapi. Untuk baju-baju yang terbuat dari bahan beludru, maksimal dapat dipakai sebanyak 10 kali, lebih dari itu Salon Waty tidak akan menyewakannya karena kualitas bajunya turun. Oleh sebab itu, setiap waktu Salon Waty selalu memperbaharui setiap koleksinya dengan menjahit baju-baju yang baru dan menghiasnya dengan bahan-bahan hiasan yang baru. Tidak heran, Salon Waty memiliki lemari khusus yang berisi manik-manik, benang mas, bulu-bulu, dan lain-lain untuk menghias baju-baju atau pun topi-topi yang baru dijahit.

Melalui kisah perjalanan usaha salon Waty, kita dapat belajar bahwa pendidikan itu penting, baik formal maupun nonformal, seperti kursus salon yang Ibu Siti ikuti. Selain pendidikan, faktor yang lain adalah semangat tinggi dari dalam diri kita untuk menjawab tantangan dan kebutuhan zaman. Ketika usaha sudah maju, jangan lupa untuk terus belajar dan bekerja keras agar tidak tergerus oleh para pesaing. Oleh sebab itu, kefokusan usaha begitu penting, sehingga ketika menyebut suatu kebutuhan, misalnya sewa baju tradisional, maka calon konsumen akan ingat akan produk kita. (SusanWibowo/RadioEdukasi/BPMRPK)

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar