Artikel

Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia: Ciptakan Bogor sebagai Kota Ilmu Pengetahuan Hayati Tropika Dunia

Jakarta (RE) - Puncak penyerahan  Anugerah Ki Hajar 2016 dilaksanakan pada Jumat petang (25/11) di Gedung D Kemristek Dikti, Senayan, Jakarta. Sejumlah organisasi memeriahkan acara tersebut dengan menggelar stan pameran di sepanjang jalan menuju ke auditorium.Salah satu instansi yang mengikuti pameran tersebut adalah Pusat Penelitian (Puslit) Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang berkantor di Bogor, Jawa Barat.

Kalau menyebut Bogor, benak kita pasti tertuju pada Kota Hujan. Namun sejak tiga bulan lalu, Bogor juga akan menjadi kota sains. Puslitbang Biologi LIPI meluncurkan Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia. Dian Kumara, pengelola Museum menjelaskan bahwa Museum ini baru di-soft launching oleh Kepala LIPI pada tanggal 31 Agustus 2016. 

"Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia merupakan pengembangan dari Museum Etnobotani Indonesia. Museum Etnobotani Indonesia terlahir dari gagasan mantan Kepala Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof. Dr. Sarwono Prawiroatmodjo. Kemudian, pada tahun 1962 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Herbarium Bogoriense. Setelah gedung ini jadi, oleh Ibu Siti Sastrapraja, pada saat itu namanya Lembaga Biologi Nasional. Beliau kembali mengumpulkan dan mengadakan tempat, dan akhirnya terbentuklah museum ini. Museum Etnobotani Indonesia diresmikan oleh Menristek BJ. Habibie pada tanggal 18 Mei 1982," ujar Dian Kumara.

Koleksi Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia cukup lengkap, kalau boleh dikatakan satu-satunya di Indonesia. Dian Kumara menjelaskan bahwa:

"Saat ini di lantai dasar berisi pameran tetap dari koleksi yang disajikan. Dalam pameran tetap itu, terdiri atas evolusi dan etnobotani. Lantai 1 adalah ruang informasi umum yang berisi sejarah biologi, geografi, diversifikasi, dan sebagainya. Sementara ini, lantai 1 digunakan untuk ruang pameran temporer yang mengangkat tema "Bogor sebagai Kota Sumber Ilmu Pengetahuan Hayati Tropika Dunia." Bagian lain dari pameran temporer sementara diisi dengan ruang kuliah, administrasi, penyimpanan, dan sebagainya. Ke depan, pengembangan di lantai 2 digunakan untuk tema pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat Indonesia. Lantai 3 direncanakan untuk memuat koleksi tentang ketergantungan manusia terhadap lingkungannya. Lantai 4 akan dikembangkan mengenai perkembangan teknologi, pemanfaatan hayati yang terkini. Lantai 5 akan digunakan sebagai kafetaria, dan sebagainya," jelas Dian Kumara.

Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia dapat menjadi tujuan wisata edukasi karena dibuka untuk pelajar dan umum setiap hari. Senin s.d. Kamis melayani masyarakat pada pk. 08.00-16.00 WIB; Jumat pk. 08.00-16.30 WIB; Sabtu dan Minggu pk. 09.00-15.00 WIB. Jangan lupa, kunjungi Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia di Jalan Ir. H. Djuanda Nomor 22, Bogor. (SusanWibowo/RadioEdukasi/BPMRPK)

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar