Berita Pendidikan

Menristekdikti Tantang Kampus Hasilkan Lulusan Ahli Sawit

Yogya (RE) – Indonesia merupakan penghasil terbesar minyak sawit, sebab Indonesia mempunyai luas perkebunan sawit hingga 1 juta hektar. Namun, sumber daya manusia (SDM) dalam bidang sawit yang dimiliki Indonesia masih sangat minim, sehingga membuat kualitas sawit Indonesia rendah di mata dunia. “Untuk mengatasi persoalan tersebut, Perguruan Tinggi harus mampu menghasilkan lulusan ahli sawit. Selain itu, perkembangan teknologi dalam bidang pertanian juga dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman,“ papar Menristekdikti, Prof. Dr. Muhammad Nasir, dalam Kuliah Umum dan Peresmian Grha INSTIPER, di Kampus INSTIPER Yogyakarta  (7/3).

Sumber daya yang dimiliki Indonesia belum memadai, dan teknologi yang ada pun juga masih perlu dikembangkan. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya dan antisipasi dalam menghadapi tantangan revolusi industry 4.0. ''Saat ini teknologi pengelolahan minyak sawit di hilir masih minim. Bahkan tidak memenuhi standar dunia. Tantangan yang yang dihadapi adalah menjadikan produk minyak sawit Indonesia berstandar,'' katanya.

Nasir menambahkan, pihaknya menyadari pentingnya peran perguruan tinggi terutama yang memiliki program keahlian atau prodi di bidang perkebunan sawit. Oleh sebab itu, Kemenristekdikti akan mendorong sejumlah perguruan tinggi perkebunan yang fokus di sawit, salah satunya INSTIPER Yogyakarta yang dinilai memiliki kekhasan tersendiri dalam menghasilkan SDM bidang sawit. “Sekolah tinggi perkebunan sawit swasta yang ada saat ini cukup baik adalah INSTIPER Yogyakarta. Maka saya mendorong INSTIPER ini memimpin dalam mengembangkan inovasi teknologi bidang sawit,” jelasnya.

Kerja sama dengan beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang sawit, menjadi salah satu langkah penting untuk memperdalam ilmu serta memperluas wawasan tentang sawit. Mahasiswa bisa melakukan praktek mulai dari awal hingga pengolahan menjadi minyak sawit. “Beberapa perusahaan sudah bekerjasama dengan INSTIPER, ini pas sehingga ada hilirisasi, sampai ke pengolahan bahkan sampai keenerginya, energi dari kelapa sawit,” kata dia.

Saat ini INSTIPER Yogyakarta memiliki program studi D1 yang dikonsep melalui Akademi Komunitas Perkebunan, di mana akademi tersebut berisikan mahasiswa yang merupakan anak-anak petani sawit yang dikuliahkan selama satu tahun melalui kerja sama dengan berbagai perusahaan.  “Saya ingin mengembangkan model tersebut di luar Jawa. Apabila ada yang bersedia, saya akan dukung upaya itu,“ ungkapnya.

Rektor INSTIPER Yogyakarta, Dr. Ir. Purwadi mengatakan, menghadapi tantangan di revolusi industry 4.0 ini, pengajaran di Perguruan Tinggi dituntut untuk bisa menghasilkan lulusan yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan industry. “Oleh sebab itu kami menjawab tantangan kemajuan zaman dengan pendidikan berbasis University Industry Partnership. Model itu membuat pembelajaran dan kurikulum di INSTIPER menyesuaikan kebutuhan industri masa kini dan masa depan. Sejatinya, kalau mau pendidikan berbasis kompetensi, mesti menggunakan pendekatan model university industry partnership,” ujarnya. (Ken/Radio Edukasi/BPMRPK/ Kemdikbud)

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar