Berita Pendidikan

BATAN Kaji Limbah Radioaktif Untuk Bahan Baterai Nuklir

Yogya (RE) – Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) akan melakukan kajian terhadap pemanfaatan limbah radioaktif, untuk dijadikan bahan pembuataan baterai nuklir. Hal ini dilatarbelakangi banyaknya limbah yang terkumpul di Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) BATAN. Ide pembuatan baterai nuklir sebenarnya meniru yang dilakukan oleh lembaga antariksa USA, NASA, yang menggunakan bahan nuklir sebagai baterai tahan lama dan tahan cuaca.

Meski belum diketahui kapan menjadi kenyataan, baterai nuklir ini diyakini memiliki banyak keunggulan bila dibandingkan dengan baterai kimia yang selama ini dipergunakan oleh kalangan luas.

“Baterai nuklir yang memanfaatkan limbah radioaktif ini sangat penting kegunaannya bagi daerah terluar dan terpencil, dengan syarat tingkat keselamatannya harus dijamin. Yang menjadi tantangannya adalah harus memodifikasi limbah, yang disesuaikan dengan bentuk dan ukuran baterai,” jelas Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, di sela Rakor Pengolahan Limbah Radioaktif, di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) Yogyakarta, Kamis (19/4).

Jumlah limbah radioaktif di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal ini diakibatkan dari meningkatnya penggunaan bahan radioaktif di masyarakat, baik untuk keperluan penelitian, kesehatan, maupun industri. Sekitar 15.000 rumah sakit, industri, perusahaan penggunaan bahan radioaktif di Indonesia selama ini memang diharuskan untuk mengirimkan limbahnya, atau  bahan radioaktif yang sudah meluruh ke BATAN, atau diekspor kembali ke negara asal radioaktif tersebut dibeli atau diproduksi. “Tugas BATAN salah satunya adalah menangani limbah radioaktif. Selain dari pihak luar, BATAN sendiri juga menghasilkan limbah. Saat ini semua limbah yang ada sedang dijajaki cara memanfaatkannya,“ papar Djarot.

Mengingat sifatnya yang memancarkan radiasi, maka limbah radioaktif harus dikelola secara khusus dengan mengikuti prosedur dan peraturan yan gberlaku demi menjaga keselamatan manusia. Beberapa jenis limbah radioaktif mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai bahan pembuat baterai nuklir.

Peneliti BATAN, Winter Dewayatna mengatakan, baterai nuklir adalah sebuah alat atau perangkat yang dapat menghasilkan listik dari radiasi zat radioaktif. Berbeda dari PLTN yang menghasilkan listrik dari reaksi pembelahan inti atom dari bahan-bahan nuklir seperti uranium dan torium. “Baterai nuklir umumnya tidak memiliki cairan atau pasta yang bersifat penghantar listrik dan elektroda-elektrodanya tidak termakan oleh reaksi kimia seperti yang terjadi pada baterai kimia pada umumnya. Daya listrik yang dihasilkan baterai nuklir tergantung pada daya radiasinya. Makin besar daya radiasi, maka makin besar daya listrik yang dihasilkan,“ tandasnya. (Ken/ Radio Edukasi/ BPMRPK Kemdikbud)

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar