Artikel

Edukasi Kawasan Tanpa Rokok

Sejak tahun 2017, Dinas Kesehatan Yogyakarta telah menetapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di beberapa tempat, seperti kawasan kesehatan, kawasan pendidikan, tempat umum seperti halnya transportasi umum, arena bermain, semua tempat yang di sekitarnya dekat dengan balita, bayi, ibu hamil atau usia lanjut. Remaja usia 15-19 tahun, atau remaja yang masih aktif sekolah, paling banyak mengkonsumsi rokok. Hal ini sangat berbahaya karena dalam sepuntung rokok terdapat 70 penyebab penyakit kanker dan bisa merusak organ vital, seperti jantung, otak, bahkan menyebabkan kematian.
 
KTR merupakan ruangan yang ditetapkan larangan bagi orang untuk memproduksi, memperdagangkan, menjual, mengiklankan atau mempromosikan produk tembakau. Kewajiban pemerintah menyiapkan lingkungan yang bersih agar masyarakat yang memiliki resiko terhadap asap rokok tidak terpapar asap rokok dan dapat dilindungi. Bukan melarang merokok, tetapi mengatur masyarakat agar menghargai orang yang tidak merokok. Selain itu juga agar masyarakat bisa mendapat lingkungan yang segar untuk kehidupan ke depan. Perda No. 2 Tahun 2012 sejak April 2017 telah ditetapkan dan mengatur tentang KTR, termasuk sosialisasinya. 
 
“Pengelolanya yang kena, siapa yang bertanggung jawab disitu. Bila tidak diketahui, kita bisa lapor ke unit pengaduan Pemerintah Kota untuk ditindaklanjuti. Bisa akses lewat sms. Kita juga membentuk tim-tim satgas pengawas melibatkan UPD yang ada, kemudian sampai ke kelurahan. Tetapi penegaknya adalah para penegak Perda, dalam hal ini adalah Satpol PP, dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil. Sekarang ada ketentuannya kalau melanggar didenda Rp7 juta atau kurungan 1 bulan. Pemberian sanksi ini ada tahapannya. Ada teguran 1 sampai 3. Kalau tidak diindahkan, maka pengelolanya akan didenda,” jelas Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Agus Sudrajad, saat ditanyakan mengenai tindakan bila ada yang melanggar.
 
Hasil Survei Sektor Kesehatan menunjukkan bahwa pengeluaran terbanyak belanja: pertama ialah pulsa, kedua rokok. Rokok memberikan cukai pada negara sebesar Rp50 juta, tapi menyembuhkan sakit akibat rokok itu membutuhkan dana Rp250 triliun-an, atau 5 kali lipat. Dampak paling besar diderita oleh penduduk berusia 15-19 tahun. Rokok adalah jendela masuk ke narkoba. Jangan ada lost generation sehingga mereka tidak bisa konsentrasi dan berpikir positif.
 
Penerapan KTR dari Dinas Kesehatan setelah Perda ditegakkan melakukan sosialisasi. Dalam 1 tahun terbentuk KTR di RW-RW, menggandeng tokoh agama. Oleh sebab itu, Dinas Kesehatan Yogyakarta bisa melakukan sosialisasi di tempat ibadah dengan menyebarkan CD dan pemutarnya untuk diputar pada jam tertentu. Selain itu juga menggandeng Dinas Pendidikan untuk menyampaikan kepada siswa tentang bahaya merokok, membuat konselor sebaya yaitu teman remaja dididik sebagai kader berhenti merokok. Tersedia juga 18 Puskesmas dengan konselor dan psikolog berhenti merokok.
 
Ada 4 pilar penyangga, yaitu promosi, prevensi (pencegahan), kuratif (pengobatan), dan rehabilitasi (pemulihan). Lebih baik melakukan upaya pencegahan, adanya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) penting dilakukan, cukup gerakan fisik tidak merokok dan alkohol, tidur makan seimbang.
 
Narasumber: Agus Sudrajad (Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta)
Disarikan dari siaran talkshow Edu Publik, yang disiarkan di Radio Edukasi pada hari Jumat, 13 April 2018 pk. 14.00-15.00 WIB.

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar