Artikel

Meraih Prestasi dari Debat Bahasa Arab

Debat Bahasa Arab selain untuk melatih kemampuan berbahasa Arab secara aktif, juga akan  melatih kemampuan dalam berdiskusi ilmiah bagi para pelajar atau mahasiswa.  Seperti halnya di pondok pesantren, hal tersebut sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan. Mereka berdiskusi tentang keilmuan ataupun fenomena yang sedang hangat. Mereka diarahkan dari ngobrol atau bercakap sesuatu yang sama sekali tidak ada manfaatnya kepada diskusi ilmiah. Di era modern ini kemampuan beradu argumen sangatlah penting. Apalagi kita hidup di zaman opini publik sangat berpengaruh, khususnya di media sosial.
 
Debat Bahasa Arab sudah menjadi agenda rutin yang diadakan oleh Perguruan Tinggi Keislaman Negeri (PTKIN), termasuk di tahun 2018 ini telah diselenggarakan Invitasi Pekan Pengembangan Bakat dan Minat Mahasiswa (IPPBMM) ke-7 di IAIN Purwokerto. 
 
Pengalaman mengikuti lomba debat itulah yang dirasakan oleh Rahmat Hidayat, biasa disapa Rahmat, mahasiwa semester IV jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang telah berhasil meraih juara 1 Debat Bahasa Arab tingkat Nasional di ajang Invitasi Pekan Pengembangan Bakat dan Minat Mahasiswa ke-7 di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto pada tanggal 24 April 2018. Hal itu diungkapkan saat mengisi program bincang-bincang live “Prestasi Anak Negeri” di Radio Edukasi Kemdikbud, pada Rabu 2 Mei 2018, pukul 14.00 WIB. Pada kesempatan itu Rahmat Hidayat menceritakan tentang sisi menariknya lomba debat Bahasa Arab dan pengalamannya dalam mengikuti kompetisi tingkat Nasional tersebut.
 
“Dalam perlombaan IPPBMM ke-7 yang diadakan di Purwokerto ini diikuti kurang lebih 18 PTKIN nasional, jadi dari Sabang sampai Merauke berpartisipasi dalam even IPPBMM. Ada beragam lomba yang ada di sana, ada  bagian keilmuan dan bagian kebahasaan, ada juga bagian olahraga. Dan saya mengikuti cabang lomba debat Bahasa Arab. Yang menarik menurut saya dalam lomba debat bahasa Arab ini, selain mengasah kemampuan berbicara, skill berbahasa asing juga kita dilatih disana untuk berpikir logis, dengan mengajukan data-data yang ilmiah, jadi berdebat dengan menggunakan data-data yang ilmiah,” ujarnya.
 
Ketika disinggung tentang sejak kapan mulai menekuni kegiatan debat, khususnya debat bahasa Arab, Rahmat Hidayat  mengatakan sejak menjadi maba (mahasiswa baru).
“Untuk mulai menekuni debat bahasa Arab ini, secara spesifik saya mulai semenjak maba (mahasiwa baru - Red). Jadi baru tahun kemarin saya menekuni bahasa Arab, semenjak di pondok saya cuma belajar Bahasa Arab biasa saja dan tidak terlalu spesifik soft skill bahasa Arabnya. Jadi pengembangan soft skill Bahasa Arab ini saya mengikuti UKM Studi Pengembangan dan Bahasa Asing, karena saya bukan Jurusan Sastra Arab,” ujarnya.
 
Selanjutnya Rahmat Hidayat  menjelaskan tentang persiapan-persiapan yang dilakukan  sebelum lomba.
“Persiapan-persiapan sebelum lomba itu sendiri ya perlu waktu sekitar dua minggu, karena di sana ada mosi-mosi atau tema yang lagi hangat dan kontemporer, jadi yang kemarin di lomba IPPBMM itu ada 5 mosi yang dibahas dengan bimbingan seorang dosen Dr. Burdah. Sebelumnya kita juga mengkaji dulu mosi-mosi yang jumlahnya 5 itu bersama teman saya Muhammad Zulkifli. Kita latihan tiap pagi dan sore bersama-sama,” katanya. 
 
Ketika disinggung tentang apa kendala-kendala yang dihadapi saat lomba, Rahmat Hidayat mengungkapkan adanya ketimpangan mosi. 
“Sebenarnya kendalanya ada pada mosi yang timpang maksudnya berat sebelah. Seperti kemarin kita kena mosi hoax dapat dibenarkan, kami sudah khawatir, karena untuk argumen-argumen yang pihak pro hoax itu sangat tidak imbang sekali dengan argumen-argumen yang kontra. Tapi alhamdulillahnya pas babak penyisihan itu kami kena yang kontra, artinya  data-data yang mengatakan hoax tidak dapat dibenarkan itu banyak sekali yang kami temukan,” katanya.
 
Rahmat Hidayat mengungkapkan tentang perasaannya ketika meraih juara satu diajang debat Bahasa Arab ini. 
“Alhamdulillah saya bersyukur dan bahagia gitulah karena sebelumnya saya menggeluti debat itu secara bertahap dari level regional dulu, DIY dan Jateng baru ke Nasional,“ katanya.
 
Rahmat Hidayat menambahkan tentang rencana ke depan terkait dengan kemampuannya berbahasa Arab dan bahasa asing yang lain.
“Saya ingin melanjutkan ke luar negeri untuk S2 nanti beasiswa ke Timur Tengah,“ katanya.
 
Selanjutnya Rahmat Hidayat berharap kepada dirinya, juga teman-teman mahasiswa terkait pengembangan diri untuk memaksimalkan potensi yang kita miliki, dan jangan sia-siakan waktu, jangan membatasi diri dan terus berkreasi. 
“Harapan ke depan untuk para mahasiswa terkadang kita merasa minder. Terkadang manusia itu juga merasa sering membatasi diri padahal setiap manusia memiliki potensi yang sama maka jangan sia-siakan waktu yang ada. Sekali hidup, hiduplah yang berarti dan jangan pernah membatasi diri dan berkreasilah,” pungkasnya. (Yudha Wijasena / Radio Edukasi / BPMRPK / Kemdikbud)
 

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar