Berita Pendidikan

Alumni Boda Yogyakarta Harus Punya Karakter Kuat

Yogya (RE) - Sukses merupakan impian setiap manusia, namun sukses tak akan berarti apabila tidak bermanfaat bagi orang lain. Sukses bukan diukur dengan apa yang didapatkan seseorang, melainkan apa yang dapat diberikan seseorang kepada orang lain. Karakter merupakan salah satu pondasi dalam membangun identitas diri di samping pencapaian akademik yang optimal. “Pembangunan karakter pada diri seseorang itu sangat perlu. Kalau hanya dengan mengandalkan akademik saja tanpa diimbangi dengan karakter kuat, maka seseorang dapat dipastikan akan gagal dalam karier,“ kata salah satu alumnus SMA Bopkri 2 Yogyakarta, yang juga Wakil Rektor II Urusan Non Akademis Universitas Darma Persada Jakarta, Toni P. Sianipar, usai wisuda pelepasan siswa SMA Bopkri 2 Yogyakarta TA 2017/2018,  di Hotel Phoenix Yogyakarta, Jumat (11/5/2018).

Dalam kesempatan tersebut, Toni juga menghimbau orangtua untuk membimbing dan mengarahkan putra putrinya agar mempunyai karakter kuat. “Di Boda ini siswa juga dididik untuk memiliki karakter kuat, di samping juga diajarkan nilai-nilai yang menunjang karakter tersebut, misalnya menghargai perbedaan dan toleransi,“ kata Toni.

Menanggapi keberadaan media sosial, Toni mengatakan, media sosial jangan hanya dilihat dari sisi negatifnya saja, namun juga dilihat dari sisi manfaatnya. “Media sosial dapat digunakan untuk personal branding, membangun karakter diri sendiri, supaya orang kalau lihat kita walaupun hanya di media sosial, bisa menilai kalau kita punya sesuatu yang positif. Manfaatkan itu,“ jelas Toni.

Kepala SMA Bopkri 2 Yogyakarta Sri Sulastri mengatakan, lulusan SMA Bopkri 2 Yogyakarta merupakan lulusan yang memiliki karakteristik dengan nilai-nilai berintegritas. “Pelayanan dan kasih yang terintegrasi dengan nilai peduli sesama, empati, cinta bangsa negara. Kami menyebutnya dengan sekolah multikultur Indonesia,“ paparnya.

Istilah pendidikan multikultural menggambarkan berbagai program dan praktik yang terkait dengan pemerataan pendidikan, kelompok etnis, perempuan, minoritas bahasa, kelompok berpendapatan rendah, dan disabilitas. “Pendidikan multikultural yang kami terapkan adalah pendidikan yang berkeadilan sosial, dan memberikan pengalaman belajar sehingga anak dapat berkembang secara optimal. Kami juga mensinergikan peran orangtua dan sekolah dalam membimbing anak,“ jelas Sri Sulastri.

Menurutnya, proses pembelajaran memungkinkan anak menjadi kritis dan konstruktif. Hal ini karena anak memiliki ketrampilan untuk dimanfaatkan dan mengimplementasikan ilmu yang dikuasai. Oleh sebab itu, orangtua siswa memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan karena proses belajar, sehingga berhasil secara optimal. “Kami harap lulusan bisa mencapai cita-cita dan menjadi orang berintegritas, dan menjadi pelayan masyarakat yang penuh kasih. Kami titipkan nama besar Boda kepada kalian untuk dijaga,“ kata Sri Sulastri.

Dalam acara tersebut, SMA Boda Yogyakarta mewisuda 139 siswa. Wisudawan terbaik dari kelas IPA diraih oleh Yosia Hamonangan Nainggolan dengan nilai 311, dari kelas IPS diraih Raden Roro Wedya Atmaja dengan nilai 319, dan dari kelas Bahasa diraih oleh Chiko Permana Putra dengan nilai 252. (Ken/Radio Edukasi/ BPMRPK Yogyakarta/Kemdikbud).

 

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar