Aktivitas

Lokakarya Analisis Kebutuhan Model Media Audio Pembelajaran Tahun 2018

Yogya (RE) - Dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi kelembagaannya, BPMRPK Kemendikbud menyelenggarakan kegiatan analisis kebutuhan model media audio pembelajaran, di New Saphir Hotel (7-9/5). Kegiatan dimaksud merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan oleh BPMRPK Kemendikbud.

Tahun 2018 ini kegiatan analisis kebutuhan diarahkan untuk mengumpulkan data dan merekomendasikan model-model media audio pembelajaran yang dibutuhkan oleh sasaran. Secara spesifik, sasaran analisis kebutuhan tahun 2018 adalah pendidikan luar biasa, khususnya tunanetra.

Ada yang berbeda dalam pola pelaksanaan kegiatan analisis kebutuhan tahun ini, yaitu, kalau pada tahun-tahun sebelumnya, analisis kebutuhan dilakukan menggunakan metode survey lapangan, maka pada tahun 2018 ini pelaksanaannya menggunakan metode lokakarya.

Perbedaan utama kedua metode analisis tersebut lebih pada teknik pengumpulan datanya. Dalam survey lapangan, surveyor BPMRPK Kemendikbud mendatangi lokasi dan mengumpulkan data dari responden di berbagai daerah. Sedangkan pengumpulan data dalam bentuk lokakarya, BPMRPK Kemendikbud mengundang para pengambil kebijakan, akademisi, dan pemangku kepentingan sasaran model di Yogyakarta untuk memaparkan dan berdiskusi tentang model yang dibutuhkan.

Tahun 2018 ini, sasaran pengembangan model media audio pembelajaran adalah pendidikan luar biasa tunanetra. Sehingga dalam lokakarya analisis kebutuhan BPMRPK Kemendikbud mengundang pihak Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dit PKLK Ditjen Dikdasmen Kemendikbud) yang diwakili oleh Dra. Tita Srihayati, M.Phil, SNE (Kepala Seksi Pembelajaran). Di samping itu, BPMRPK Kemendikbud juga menghadirkan Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Gogot Suharwoto, Ph.D), dan Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Luar Biasa (P4TK TK dan PLB) Bandung (Drs. Sam Jhon, MM). Untuk akademisi, BPMRPK Kemendikbud menghadirkan dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (Dr. Subagya, M.Si).

Peserta kegiatan analisis kebutuhan model media audio pembelajaran tahun 2018 ini terdiri dari dalam dan luar BPMRPK Kemendikbud. Peserta dari BPMRPK Kemendikbud adalah para Pengembang Teknologi Pembelajaran, sedangkan dari luar BPMRPK Kemendikbud adalah para kepala SLB Tunanetra dari Makassar, Rutteng, Payakumbuh, Mataram, Bantul, dan Yogyakarta.

Dari paparan para dan diskusi analisis kebutuhan, diperoleh pokok-pokok kebutuhan model media audio pembelajaran untuk tunanetra sebagai berikut:

  1. Secara prinsip para narasumber dan peserta yang merupakan bagian dari pengambil kebijakan di setiap institusi menyambut baik gagasan pengembangan model media audio pembelajaran yang diinisiasi oleh BPMRPK Kemendikbud.
  2. Sambutan baik disampaikan dalam bentuk kesediaan untuk menindaklanjuti produk model media audio yang dihasilkan sesuai dengan kewenangan masing-masing institusi.
  3. Para pimpinan institusi yang menjadi narasumber analisis kebutuhan model media audio pembelajaran tahun 2018 bersedia memasukkan produk model media yang dikembangkan oleh BPMRPK Kemendikbud dalam bentuk penggandaan, penyebaran, dan bimbingan teknis pemanfaatannya.
  4. Dari para kepala SLB yang menjadi peserta, ada masukan perlunya diversifikasi format teknologi audio menyesuaikan dengan tingkat literasi teknologi, dan kondisi sosial masing-masing.
  5. Untuk itu, BPMRPK Kemendikbud perlu menyiapkan model media dengan teknologi yang familiar (mp3 dengan pemutar speaker mini, dan model media audio dengan terkini dalam bentuk aplikasi audio pada alat pemutar dengan sistem operasi tertentu).
  6. Secara umum pihak pengguna (SLB Tunanetra) menyambut baik model yang akan dikembangkan untuk menjawab kebutuhan di sekolah masing-masing. Karena selama ini bantuan sumber/media yang paling banyak diterima oleh SLB berbentuk materi cetak, sehingga perlu diperbanyak sumber/materi audio dalam berbagai bentuk sajian dan taktual (Braille).
  7. Untuk draft model yang diajukan dalam kegiatan analisis kebutuhan, baik Si Juara (Solusi Jitu Audio untuk Tunanetra), Panbinetra (Pandai Berbahasa Indonesia untuk Tunanetra), Buka Suara (Buku Saku Audio untuk Tunanetra), Wayang Berbicara, dan S-E-T (Smart English Today) direspon positif oleh peserta analisis kebutuhan.
  8. Masukan dari para peserta dan narasumber lebih menekankan pada aspek teknik penyajian konten media dalam model yang diharapkan berbentuk materi pengayaan, dan bimbingan tes audio.
  9. Masukan lain yang perlu mendapat perhatian adalah aspek visibilitas model untuk dikembangkan, dengan pertimbangan kemampuan pengembang dan anggaran yang tersedia.
  10. BPMRPK Kemendikbud perlu segera merancang sistem pembelajaran berbasis model media audio untuk pembelajaran untuk berbagai sasaran.

Rumusan hasil analisis kebutuhan ini disusun sebagai rekomendasi dan masukan bagi tahapan penyusunan rancangan model media audio pembelajaran. (Sunarto/ Radio Edukasi/ BPMRPK Kemdikbud)

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar