Artikel

Mendulang Emas dari Olimpiade Guru Nasional

Insan Edukasi, di era globalisasi ini kemampuan berbahasa asing, terutama Bahasa Inggris, sangatlah dibutuhkan dalam banyak aspek. Tak ayal para generasi millennial dituntut untuk cakap berbahasa Inggris, baik dalam lingkungan pendidikan maupun lingkungan kerja. Tidak jarang banyak kaum muda bahkan kalangan professional yang rela menghabiskan banyak biaya untuk belajar Bahasa Inggris. Berkat kemampuannya dalam berbahasa Inggris, seseorang bisa meraih prestasi, khususnya  bidang bahasa Inggris di ajang lomba Olimpiade Guru Nasional 2018.
 
Pengalaman mengikuti lomba Olimpiade Guru Nasional  itulah yang dirasakan oleh Laily Amin Fajariyah, M.Pd, biasa disapa Mrs. Laily, guru Bahasa Inggris SMP N 5 Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta yang telah berhasil meraih medali emas kategori Bahasa Inggris SMP di ajang Olimpiade Guru Nasional (OGN) 2018 yang diselenggarakan tanggal 4-8 Mei 2018 di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Hal itu diungkapkan saat mengisi program bincang-bincang live “Prestasi Anak Negeri” di Radio Edukasi Kemdikbud, pada  Rabu, 23 Mei 2018, pukul 14.00 WIB. Pada kesempatan itu Mrs. Laily menceritakan tentang lomba Olimpiade Guru Nasional (OGN) dan pengalamannya dalam mengikuti kompetisi tingkat nasional tersebut.
 
“OGN ini adalah Olimpiade Guru Nasional jadi kalau untuk siswa kan ada OSN (Olimpiade Siswa Nasional - Red), dan untuk guru-gurunya diberikan sebuah ajang namanya OGN (Olimpiade Guru Nasional). Itu ada olimpiade Dikdas untuk pendidikan dasar dan OGN untuk Dikmen (Pendidikan menengah – Red). Nah khusus Miss Laily kan karena guru SMP maka saya masuk dalam OGN Dikdas ya bersama dengan guru SD juga. Nah, di OGN Dikdas itu ada sekitar 5 Mapel dari SMP, yaitu  Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Sedangkan yang satunya lagi dari guru SD guru kelas. Dari even itu  ada perwakilan dari berbagai provinsi di Indonesia. Jadi setiap bidang lomba, seperti miss Laily Bahasa Inggris SMP ada 34 orang guru dalam ajang tersebut,  jenjang SD juga ada 34 guru perwakilan dari seluruh provinsi di Indonesia,“ jelasnya.
 
Ketika disinggung tentang latar belakang mengikuti lomba, Mrs. Laily mengatakan sangat dramatis sekali. 
“Sebenarnya setahu saya untuk even Olimpiade Guru Nasional (OGN) ini,  baru tahun ke tiga. Itu dari 2 tahun sebelumnya tiap ada OGN untuk DIY, selalu teman dari Gunung Kidul yang maju ke nasional. Jadi saya penasaran, saya juga pengin ikut lomba OGN. Apa sih, dan kemudian ada temen dari daerah Majalengka, kakak tingkat saya, ngomong kamu harus ikut OGN agar kamu tidak hanya tahu tentang Gunung Kidul aja, biar ketemu guru-guru bahasa Inggris dari seluruh Nusantara. Jadi oke dech, besok kamu harus ikut. Jadi penasaran OGN itu apa, tanya-tanya dan saya ngikuti Facebooknya Dikdas dan waktu itu ada pengumuman lomba OGN. Saya lihat pedomannya dan terus pokoknya saya harus ikut tahun ini,” ungkapnya.
 
Selanjutnya Mrs. Laily menjelaskan tentang tahapan-tahapan yang harus dilalui hingga ke jenjang nasional.
“Untuk OGN sendiri itu tahapannya jadi yang dilalui kemarin itu pertama kami online dulu di websitenya KesharlindugDikdas.id. Online dulu memasukkan berkas-berkas, kemudian kalau daerah tidak ada anggaran penyelenggaraan OGN, maka menggunakan hasil dari online. Nah untuk Gunung Kidul sendiri menggunakan online, jadi dari Dikdas seleksinya onlinenya maka diambil salah satu dari Gunung Kidul. Dan alhamdulillah, setelah berbagai proses akhirnya kami lolos ke jenjang berikutnya dan kami dipanggil untuk tes provinsi. Kami diberi waktu 3 jam untuk mengerjakan 100 soal dalam Bahasa Inggris. 80 soal profesional  20 soal pedagogik semuanya dalam bahasa Inggris dan waktu itu soal-soalnya HOTS sekali (High Order Thinking Skills - Red). Kemudian kita menunggu beberapa minggu belum ada pengumuman, lalu tiba-tiba ada yang share: selamat Laily kamu lolos ke nasional. Alhamdulillah untuk Yogyakarta sendiri kita mempunyai 7 wakil dari mapel SMP Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris ada 2 yaitu saya dan teman saya dari Kulonprogo dan dari SD. Terus kami dari tanggal 4 - 8  Mei 2018 mengikuti yang ke nasional,” tuturnya. 
 
Ketika disinggung tentang apa kendala-kendala yang dihadapi saat lomba, Mrs. Laily mengungkapkan ada beberapa barang yang sebetulnya kecil, tetapi justru itu yang penting dan sangat dibutuhkan untuk membantu lancarnya lomba. 
“Sebelum lomba itu semua barang yang perlu itu saya persiapkan, termasuk buku-buku dan lainnya. Cuma ada barang kecil yang tidak saya bawa adalah gunting dan doubble tip. Harapan saya pasti nanti akan disiapkan oleh panitia. Nah, padahal saat lomba kita disuruh untuk membuat sebuah project untuk anak-anak, dan saya membutuhkan barang-barang itu, hingga tanya ke teman-teman juga gak ada, akhirnya saya memberanikan diri untuk minta ke panitia. Ini adalah satu pembelajaran bagi saya, sebetulnya itu bukan hambatan yang besar, tapi hal kecil kalau tidak dipersiapkan sangat berpengaruh juga, jadi mungkin untuk teman-teman next kalau mengikuti lomba semua harus disiapkan barang sekecil apapun,  ternyata sangat dibutuhkan, kadang-kadang membuat jadi panik gitu,” katanya.
 
Mrs. Laily menambahkan tentang kriteria  penilaian dalam Olimpiade Guru Nasional tersebut yaitu ada tiga tahapan test.
“Untuk di nasionalnya itu ada tiga ujian atau test, yang pertama test tertulis, kemudian test yang kedua untuk Bahasa Inggris, kita diberi empat tema. Disuruh pilih salah satu membuat proyek untuk anak-anak, kemudian yang terakhir itu wawancara dan presentasi,“ katanya.
 
Mrs. Laily mengungkapkan perasaannya ketika meraih medali emas kategori Bahasa Inggris SMP di ajang Olimpiade Guru Nasional ini.
“Perasaannya sih waktu itu surprise banget ya, terus yang jelas senang yang diinginkan kan setiap mengikuti lomba ingin juara. Waktu disebut juara 1 dari DIY Laily Amin Fajariyah, langsung senang, lega, campur aduk, dan berterima kasih sekali pada semua yang telah mendukung sampai ke fase itu,“ katanya dengan ekspresi berbinar-binar.
 
Selanjutnya Mrs. Laily berpesan kepada teman-teman guru juga para siswa untuk mencintai dan menikmati apa yang dilakukan.
“Menikmati dan mencintai apa yang kita lakukan, misal sebagai siswa juga harus mencintai dan kewajibannya sebagai siswa ya harus belajar, kalau sebagai guru juga harus terus belajar dan terus berkarya,” pungkasnya. (YudhaWijasena/ Radio Edukasi/ BPMRPK Kemdikbud)
 
 
 

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar