Artikel

Keylla Antar Fatma dan Fariz Raih Prestasi

Lomba Film Pendek adalah lomba pembuatan film yang berdurasi 7-15 menit. Ajang ini adalah sebagai bentuk apresiasi terhadap seni perfilman. Selain itu film pendek merupakan salah satu media yang efektif untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat lewat cara yang menyenangkan  dan dapat dinikmati semua elemen masyarakat. Lewat ajang ini akan melahirkan sineas-sineas muda berbakat,  tak terkecuali para pelajar yang tentu saja bisa membanggakan keluarga maupun sekolah.

Pengalaman mengikuti lomba pembuatan film pendek itulah yang dirasakan oleh Fatmasari Mudzakir dan Fariz Azhami Ahmad, masing-masing disapa Fatma dan Fariz, pelajar kelas XII  Madrasah Aliyah Negeri 1 (MAN 1) Yogyakarta, yang berhasil meraih juara 1 Lomba Film Pendek, di ajang Muehi National Competition 2017 (MONACO) yang diselenggarakan pada bulan September 2017 di Yogyakarta. Hal itu diungkapkan saat mengisi program bincang-bincang live “Prestasi Anak Negeri” di Radio Edukasi Kemdikbud, pada Rabu 15 Agustus 2018, pukul 14.00 WIB.

Pada kesempatan itu Fatma dan Faris menceritakan tentang perasaan bangga dan bahagia atas prestasinya bisa meraih juara 1 Film Pendek di ajang Monaco 2017.
“Ya, tentu senang banget ya mas dan bangga, soalnya pertama kali juara pertama  di tingkat nasional,  apa lagi kan saya belum pernah buat orangtua bangga dari segi akademisnya terus begitu ini juara, ya jadilah bangga banget,“ ujarnya.

 
Fariz juga menceritakan tentang apa itu ajang Monaco 2017:
“Monaco 2017 itu event tahunan yang diadakan oleh SMA MUHI 1 (Muhamadiyah 1 Yogyakarta - Red),  Muehi National Competition 2017, jadi itu adalah lomba tingkat nasional, lombanya macam-macam seperti film, fotografi, CCA, debat dan masih banyak lagi. Dan kami mengikuti lomba film pendek dan fotografi, sementara untuk film kita meraih juara 1 dan untuk fotografi meraih juara 3,” ujarnya.


Ketika disinggung tentang film apa yang diproduksi untuk diikutkan dalam lomba Monaco 2017, Fatma mengatakan judul filmnya adalah “Keylla.”
“Eeeem, filmya itu judulnya Keylla, menceritakan seorang gadis yang broken home terus dia itu apa ya, bingung kayak menyia-nyiakan waktunya karena merasa nggak diperhatikan orang tua, terus merasa nggak adil hidupnya dia, nggak kayak kebanyakan temen-teman yang lain, trus kayak depresi, trus menyia-nyiakan waktunya ke hal-hal yang nggak berguna, dan durasi waktunya 7 menit,” katanya.

Sedangkan untuk pemilihan lokasinya Fatma dan Fariz memilih tempat-tempat yang dekat.
“Untuk tempat kita macam-macam sih, karena kita masih pelajar jadi kita memilih tempat-tempat yang dekat gitu seperti di UGM, Wisdom Park, cafe, trus  di rumah,“ ujarnya.


Ketika ditanya tentang apa alasan mengangkat cerita Keylla ini, mereka mengatakan bahwa cerita ini mengangkat cerita tentang broken home dan kita mengangkat tentang isu yang ada di sekeliling kita.
“Karena, Keylla itu tentang broken home dan kita itu nyari isu yang terdekat dari lingkungan dan kebetulan itu ada teman yang broken home terus minta cerita gitu deh, dan Fariz menambahkan jadi kita lihat ada teman yang broken home trus kayaknya gimana gitu terus akhirnya kita terinspirasi dari situ dan kita bikin film aja,“ katanya.


Selanjutnya Fatma menambahkan tentang pesan dari film Keylla yaitu walaupun orangtua tidak akur, kita jangan melakukan hal-hal yang tidak berguna.
“Pesannya walaupun  orangtua itu nggak akur, kalau bisa tetap dukung orang tua trus tetap lakukan hal-hal yang bermanfaat, jadi jangan lakuin hal-hal yang nggak guna gitu,” ujarnya.


Selanjutnya Fatma dan Fariz menjelaskan tentang persiapan-persiapan yang dilakukan sebelum memproduksi film Keylla diantaranya Membuat cerita, menulis naskah dan hunting lokasi.
“Pertama bikin cerita, bikin naskah,  terus kan direvisi-revisi, terus hunting lokasi, hunting lokasinya dipisahlah, kita teman-teman  ada yang ke tempat ini-tempat ini, cari tempat yang pas berpindah-pindah tempat, sampai akhirnya menemukan tempat yang pas, gitu,” katanya. 


Selanjutnya Fariz mengungkapkan tentang kendala-kendala yang dihadapi saat memproduksi film Keylla, antara lain tentang waktu, lokasi dan lain sebagainya.
“Untuk kendala-kendalanya banyak baget sih. Yang pertama itu waktu, soalnya kita kan masih pelajar jadi nyesuaiin pulang sekolah jam berapa, terus dari tempat sempat bermasalah. Sering saat salah-salah take hingga sampai malam, terus filenya ada yang hilang dan sebagainya,” katanya.


Fatma dan Fariz juga mengucapkan terimakasih kepada keluarga dan sekolah atas dukungannya sehingga bisa meraih prestasi. 
“Kalau dari orang tua itu sangat mendukung, ya kalau ada lomba ikut-ikut aja nggak apa-apa terus begitu dapet juara. Ya senang orang tua.” Sementara itu, Fatma menambahkan, “Awalnya orang tua masih khawatir, tidak mendukung karena memang kurang suka kayak film-film gitu, terus tapi ya tetap aja ngeyel, ya sudah dech. Sementara dari sekolah, awalnya pas lagi produksi itu nggak tahu sama sekali. Nah, begitu tahu ada lombanya dan itu H-1 deadline baru dech izin ke sekolah. Dan itu posisi film sudah jadi dan awalnya sekolah juga tidak memberi izin karena talentnya nggak berkerudung dan bawa nama MAN. Jadi tetap di yakinin aja, ya alhamdulillahnya karena restu dari orang tua dan sekolah akhirnya menang dech,“ ungkapnya.


Fatma menambahkan harapan dan pesan-pesan kepada teman-teman agar bisa meraih prestasi.
“ Semoga lebih bagus lagi kalau mau  berkarya, ada pengalamannya lagi, dan pesan-pesan kepada teman-teman kalau punya bakat jangan dipendam, terus jangan bilang aku nggak punya bakat, bakatku apa, jangan dengerin kata orang, karena kita yang menjalaninya,“ ujarnya.


Sementara itu Faris menambahkan jangan takut-takut sama orang, dan carilah banyak teman.
“Jangan takut-takut sama orang gitu, jadi carilah teman sebanyak-banyaknya lalu berhubungan. Nanti dapat relasi. Dari relasi tadi, kita nanti bisa banyak masukan, kita dapat belajar dari satu sama lain gitu,” pungkasnya. (YudhaWijasena/Radio Edukasi/BPMRPK/Kemdikbud)

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar