Berita Pendidikan

Tidak Hanya Soal Bom, STTN Yogyakarta Jawab Kebutuhan SDM Nuklir

Yogya (RE) -  Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) Yogyakarta mewisuda 101 Sarjana Sains Terapan, Selasa (4/9), di auditorium kampus setempat. Dalam kesempatan tersebut, para lulusan memperoleh Surat Izin Bekerja Petugas Proteksi Radiasi (SIB PPR),  yang diserahkan secara simbolis oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).


Ketua STTN Yogyakarta Edy Giri Rachman Putra, Ph.D, usai acara kepada wartawan mengatakan, di masa yang akan datang IPTEK nuklir dan ruang angkasa serta teknologi informasi akan menjadi kebutuhan. “SIB PPR diperoleh melalui proses yang panjang, mulai dari pemeriksaan kesehatan, laboratorium hingga harus dinyatakan lulus dari kursus Petugas Proteksi di kampus kami dengan materi ujian yang cukup berat. Pedoman kelulusan yang kami terapkan pun juga cukup ketat,“ katanya.


SIB PPR yang diterima oleh lulusan STTN Yogyakarta dapat disetarakan dengan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang menunjukkan keahlian khusus lulusan STTN. Hal tersebut yang membedakan lulusan STTN Yogyakarta dengan PT lainnya. “Sertifikasi tambahan yang diterima oleh para wisudawan ini diharapkan dapat menjawab kekhawatiran masyarakat terkait dengan kesiapan Indonesia memasuki era nuklir,“ paparnya.


Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Prof. Dr. Ir. Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, salah satu tugas utama BATAN adalah mempersiapkan sumber daya manusia di bidang teknologi nuklir. “Kami terus berupaya menghapus stigma tentang nuklir yang masih identik dengan bom atau PLTN. Jangan terjebak dalam pemikiran bahwa nuklir itu hanya PLTN dan bom saja,“ paparnya.


Djarot menambakan, banyak industri yang menyerap tenaga nuklir dari STTN Yogyakarta. Hal tersebut secara tidak langsung dapat menjawab pertanyaan masyarakat terkait dengan kekhawatirannya yang pesimis menghadapi era nuklir. “Nuklir dibutuhkan di berbagai segi kehidupan termasuk penanganan di rumah sakit, di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), dan berbagai sektor lainnya,“ jelasnya.


Dalam wisuda tersebut, Indeks Prestasi Komulatif (IPK) tertinggi diraih oleh Thomas Candra Andrian dari Program Studi Elektronika Instrumentasi (IPK 3,88), dan disusul oleh Thera Sahara dari Program Studi Elektronika Insturmentasi dan Annisa dari Program Studi Teknokimia Nuklir (IPK 3,87). (KenFitriani/Radio Edukasi/ BPMRPK Kemdikbud)

 

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar