Berita Pendidikan

Pendidikan Multikultural Menjadi Sebuah Upaya untuk Memanusiakan Manusia

Yogya (RE) - Indonesia merupakan wilayah yang mempunyai beragam suku,  budaya , dan adat istiadat. Hal tersebut menjadi jati diri bangsa dan nilai lebih indonesia di mata dunia. Namun, apabila hal tersebut tidak disertai dengan sikap toleransi dan pendidikan multicultural, maka akan mengancam persatuan dan kesatuan NKRI. “Pendidikan multikultural mempunyai banyak tujuan, diantaranya adalah untuk memfungsikan peranan sekolah dalam memandang keberbedaan. Diharapkan, pendidikan multikultural dapat memberikan bekal kepada generasi muda, khususnya untuk memanusiakan manusia,“ kata Pemeharti Pendidikan Multikultural di Indonesia, Hisyam Zamroni, dalam Seminar Implementasi Pendidikan Antiradikalisme SMA Bopkri 2 Yogyakarta, di Auditorium UKDW Yogyakarta, Senin (10/9).  

Menurutnya, sekolah harus mempunyai grand design sekolah multikultural yang memerlukan keterlibatan semua pihak, diantaranya adalah orangtua siswa, guru, dan masyarakat. Orangtua mempunyai peran dalam memonitor anak dalam berkegiatan, termasuk dalam bermedia sosial. Media sosial mempunyai kekuatan luar biasa mempengaruhi mindset anak, terlebih akan informasi-informasi yang sifatnya menjurumuskan, dan kemudian mengakibatkan konflik. “ Di samping itu, adanya komunikasi yang baik antara anak dan orangtua juga mempengaruhi pola pikir dan sikap anak dalam bergaul ataupun memilih pergaulan,“ paparnya.

Sedangkan untuk peran guru dalam pengaplikasian pendidikan multikultural, guru dapat memberikan tempat yang nyaman di sekolah. Siswa juga diajarkan untuk tidak menjadi yang merasa lebih bila dibandingkan dengan teman-temannya, misalnya dalam bidang prestasi. “Guru harus mampu memberikan penanaman bahwa yang dilakukan oleh siswa tersebut harus bermanfaat bagi lainnya,“ jelas Hisyam.

Ia menambahkan, lingkungan juga mempunyai pengaruh tak kalah penting. Menurutnya, lingkungan yang mampu memberikan wadah kreatifitas  dan apresiasi semua kalangan, akan melahirkan generasi yang mampu menghargai perbedaan, dan memperkuat toleransi.

Kepala SMA Bopkri 2 Yogyakarta, Dr. Sri Sulastri, M.Pd mengatakan, pendidikan multikultural untuk generasi muda khususnya siswa perlu diberikan sejak dini. Sebab  tidak bisa dipungkiri bahwa dalam bergaul dan berkehidupan di masyarakat , pluralisme atau keberagaman sangat mudah ditemui. “Adanya seminar tersebut kami menargetkan siswa lebih menyadari bahwa kesatuan bangsa itu lebih penting,  daripada perbedaan. Dengan demikian maka pendidikan multikultural dianggap sangat penting dan sifatnya mendesak,“ jelasnya.

Komitmen SMA Bopkri 2 Yogyakarta sebagai sekolah multikultural ini sebagai upaya untuk mencegah paham radikalisme dan memerangi bullying. Pendidikan multikultural ini merupakan pendidikan yang berbasis perbedaan , sehingga dengan perbedaan tersebut akan terbiasa untuk bisa saling menghargai, menerima, dan menghormati. “Radikalisme ini berawal dari adanya  tidak bisa menerima perbedaan yang terjadi di lingkungan sekitar, baik perbedaan suku, agama, ras, dan bahkan status sosial,“ paparnya. (KenFitriani/ Radio Edukasi/ BPMRPK Kemdikbud)

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar