Berita Pendidikan

Menjadikan Laut sebagai Masa Depan Bangsa

Yogya (RE) - Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan, Syarif Widjaya memberikan kuliah umum di Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (18/9/2018). Gelaran ini merupakan agenda Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) Fakultas Teknologi Pertanian UGM dalam rangka lustrum yang ke-11 dengan tema “Laut Masa Depan Bangsa”.

 
Syarif memaparkan, saat ini pemerintahan Presiden Joko Widodo mengarahkan agar laut menjadi masa depan bangsa dan Indonesia menjadi poros dunia. Selama ini menurutnya masyarakat hanya berkonsentrasi pada daratan dan sedikit mengabaikan keberadaan laut. Padahal Indonesia merupakan negara kepulauan, yang dikelilingi perairan. Sejarah bangsa ini sudah mengenal laut dengan ditemukannya relief berbentuk kapal di Candi Borobudur.
“Di abad ke-7 pun kita sudah mampu berlayar ke Madagaskar, jauh sebelum Colombus, jauh sebelum bangsa-bangsa Inggris, Spanyol, Portugal dan sebagainya,” kata Syarif.


Menurutnya, pada saat itu Indonesia merupakan salah satu bangsa terbesar yang memiliki pengetahuan di bidang maritim. Namun saat Indonesia dijajah oleh VOC, konsentrasinya mulai digeser ke arah daratan sebab mereka tahu, bangsa ini bisa berjaya di lautan. 


Luas daratan Indonesia hanya 2,1 juta kilometer persegi, sedangkan laut 5,8 kilometer persegi. Namun menurut Syarif dengan luas tersbeut Indonesia hanya ditopang 2,1 juta kilometer persegi daratan, serta kontribusi dari kelautan dan perikanan hanya 3,89 %. Ia mengungkapkan Indonesia merupakan negara besar yang sedang tertidur dan perlu dibangunkan sebab wilayah yang cukup besar tersebut belum dikelola secara maksimal.


Untuk mengembalikan kejayaan tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan melakukan pembenahan. Salah satunya melalui kedaulatan, yakni memastikan laut Indonesia dikuasai bangsa sendiri secara penuh. Salah satunya dengan cara mengusir kapal-kapal asing yang menangkap ikan ilegal. Pihaknya juga tidak segan-segan untuk menenggelamkannya. 


Syarif menambah hal lain yang dilakukan yaitu dengan cara memastikan agar jumlah ikan masih bisa mencukupi. “Kita harus punya neraca sumber daya alam, dimana neraca sumber daya alam ini memastikan bahwa anak cucu kita nanti bisa melihat ikan di meja makan bukan di gambar,” tutur Syarif. (Mujaeni/ Radio Edukasi/ BPMRPK Kemdikbud)

 

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar