Artikel

Kita untuk Indonesia, Antar Salomo Raih Juara

Lomba Film Pendek adalah lomba pembuatan film yang berdurasi 7-15 menit. Ajang ini sebagai bentuk apresiasi terhadap seni perfilman. Selain itu, film pendek merupakan salah satu media yang efektif untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat lewat cara yang menyenangkan dan dapat dinikmati semua elemen masyarakat. Lewat ajang ini akan melahirkan sineas-sineas muda berbakat,  tak terkecuali para pelajar yang tentu saja bisa membanggakan keluarga maupun sekolah.


Pengalaman mengikuti lomba pembuatan film pendek itulah yang dirasakan oleh Salomo Kristalia Pengestu, biasa disapa Salomo, pelajar kelas XII SMA N 11 Yogyakarta, yang telah berhasil meraih prestasi sebagai juara 2 Lomba Film Pendek, di ajang Gebyar Kihajar 2018 yang diselenggarakan bulan Agustus 2018 di Balai Teknologi, Komunikasi, dan Informasi Pendidikan (Tekkomdik) Yogyakarta. Hal itu diungkapkan saat mengisi program bincang-bincang live “Prestasi Anak Negeri” di Radio Edukasi Kemdikbud, pada Rabu 12 September 2018, pukul 14.00 WIB. Pada kesempatan itu Salomo menceritakan perasaan bangga dan bahagia atas prestasinya bisa meraih juara 2 Film Pendek di ajang Gebyar Kihajar 2018.

“Sebenarnya pada awalnya nggak nyangka sih bisa juara, karena keterbatasan tim, waktu, keterbatasan uang dan sebagainya. Akhirnya kita garap, saya bersama tim teman-teman yang ada sebisanya, bagaimana kita bisa membuat, simpel aja dech, simpel aja yang penting kena nggak usah ribet-ribet, tapi kok ternyata setelah kita gali lagi,  ternyata dari topik yang simpel itu kita bisa merumuskan dan mengembangkan banyak topik-topik sehingga akhirnya kita sedikit berhasil membuat dokumenter tentang mencintai bangsa Indonesia dan tentu saja senang dan bangga, apalagi ketika melihat lawan-lawannya tidak sebagus yang saya bayangkan,“ ujarnya. 

Ketika disinggung tentang film apa yang diproduksi untuk diikutkan dalam lomba Gebyar Kihajar 2018, Salomo mengatakan judul filmnya adalah “Kita untuk Indonesia”.

“Film dokumenter “Kita untuk Indonesia“ itu menceritakan tentang generasi penerus bangsa, dan ini topik utamanya adalah para pelajar, para mahasiswa di Yogya yang sebagian besar sudah mulai luntur akan budaya dan teknologi di zaman kini. Mereka mulai melupakan apa itu arti perjuangan Indonesia. Mereka melupakan apa arti mengisi kemerdekaan. Mereka melupakan apa budaya kita, apa itu cinta tanah air, apa itu pendidikan kewarganegaraan. Kita juga menggali faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi hal tersebut dan kita menemukan satu hal yang eem, kunci yang disebut sebagai zona nyaman anak muda. Kita membuat video ini tujuannya bisa mengembalikan pada anak-anak muda betapa pentingnya yang namanya mencintai bangsa Indonesia, membangun karakter bangsa dan juga harus bisa melakukan hal itu. Jangan cuma tahu tapi kita harus melakukan itu,“ ujarnya.

Selanjutnya Salomo menambahkan tentang pesan dari film “Kita Untuk Indonesia” yaitu betapa pentingnya generasi muda untuk mencintai bangsa dan negara, serta membangun karakter bangsa.

“Pesannya betapa pentingnya bagi generasi muda untuk mencintai bangsa Indonesia, membangun karakter bangsa dan juga bagaimana mengisi kemerdekaan itu dan melestarikan budaya,“ ujarnya.

Selanjutnya Salomo menjelaskan tentang tahapan-tahapan yang dilakukan sebelum memproduksi film “Kita Untuk Indonesia” diantaranya menentukan konten, setelah itu baru ditulis. 

“Kalau dari tim kami itu tahapan pertama tentu saja kita menentukan kontennya dulu. Kita buat adegannya dulu terus kita tulis. Kenapa kita tulis biar nggak lupa, minimal kita dapat 10 sampai 15 konten, baru kita berani take, setelah kita take semua konten, kita take view. Beberapa view di Yogya seperti Malioboro, Tugu, Bukit Bintang, ikon-ikonnya Yogya sebagai hiasan. Setelah itu kita edit, kita kasih backsound kemudian kita rekaman sentral aktor, setelah itu kita edit semua, kita random video, sehingga sudah jadi videonya,” katanya. 

Selanjutnya Salomo mengungkapkan tentang kendala-kendala yang dihadapi saat memproduksi film “Kita Untuk Indonesia”, antara lain tentang waktu, lokasi dan lain sebagainya.

“Yang pertama, yang utama izin dari sekolah sih, sekolah itu menghendaki kita untuk ikut, bahkan menang. Tapi nggak mengijinkan kita untuk bisa take, bisa shooting di hari-hari sekolah jadi susah, sedangkan kalau hari libur atau hari Minggu, kan kita juga pengen liburan. Masak hari Minggu kita pakai, tapi akhirnya karena kita berdiskusi ulang akhirnya, ya udah dech buat kali ini kita buat hari Sabtu buat bikin video, tapi kita harus selesai dalam waktu satu hari. Jadi kita take buat video itu cuma sehari. Hari Sabtu dari pagi sampai malam dan itu sudah selesai. Hari Minggu edit Seninnya sudah jadi,” katanya.

Salomo juga mengucapkan terimakasih kepada keluarga dan sekolah atas dukungannya sehingga bisa meraih prestasi. 
“Untuk dukungan dari sekolah, jadi kita mendapat dukungan dari Kepala Pusat Sumber Belajar SMA 11 dimana yang selalu mengantarkan kita ke Kepala Sekolah untuk mendapatkan dana. Untuk kemarin kita mendapatkan dana lumayan sih, sekitar Rp 400.000  buat kita take produksi selama satu hari. Kemudian dalam doa juga dibantu, viewers dibantu misalnya kalau lomba di-upload dalam Youtube  juga dibantu menyebarkannya, sedangkan dukungan teman-teman ya kebanyakan dukungan doa aja,“ ungkapnya.

Salomo menambahkan harapan kedepan untuk dunia videografi bagi pelajar. 
“Harapannya, kita harus bisa membuat atau menghasilkan karya video yang menarik, karena video itu atau short film atau apapun itu yang disebut itu sangat mudah diserap oleh penontonnya dibandingkan dengan hanya sekedar audio, tulisan semata, hanya sekedar koran atau apapun itu, video itu lebih gampang diserap karena mengandung audio, mengandung visual, mengandung animasi, sehingga akan mudah terserap di otaknya penonton dan akan lebih bisa direalisasikan. Jadi untuk itu kita harus bisa membuat video yang benar-benar bagus dan langsung tepat di sasaran,“ pungkasnya. (Yudha Wijasena/ Radio Edukasi/ BPMRPK Kemdikbud)

 

 

 

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar