Berita Pendidikan

PSSI: Sport Science Perlu Peran Akademisi

Yogya (RE) – Perguruan Tinggi (PT) adalah stakeholder penting, sebab PT adalah tempat berkembangnya pemikiran dan peradaban. Sebuah praktik terbaik yang terjadi di banyak negara maju adalah adanya sinergi yang baik antara masyarakat kampus dengan masyarakat olahraga, khususnya sepakbola. “Di samping jadi instrumen kolaborasi dua pilar, yakni kampus dan sepakbola, terbangunnya sinergi yang baik diharapkan akan menjadi wahana berkelanjutan, yang menjembatani adanya kesenjangan antara sport science (theory) dengan football practice,“ papar Vice President PSSI, Joko Driyono, pada Dies Natalis ke-67 Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Selasa (2/10/2018).

Di Indonesia sepak bola mendapatkan tempat khusus di hati hampir seluruh penduduk negeri. Hal tersebut diakui dunia bahwa betapa besarnya potensi Indonesia untuk memenangkan kompetisi global, namun sayangnya sepak bola Indonesia masih jauh tertinggal di belakang. Sepak bola di Indonesia menyerap banyak sumber daya manusia (SDM) yang memiliki latar belakang ilmu keolahragaan. “Individu  yang memiliki latar belakang ilmu keolahragaan memiliki potensi untuk bergabung dalam ‘keluarga’ sepak bola dan mengaplikasikan ilmu yang dimiliki untuk mengembangkan sepak bola nasional,“ jelasnya.

Menurut Joko, peran para akademisi sport science sangat dibutuhkan dan berperan dalam pengembangan sepak bola baik sebagai akademisi maupun praktisi di lapangan. “Kami membuka pintu seluas-luasnya bagi UNY melalui FIK untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam implementasi sport science dalam pengembangan hingga perbaikan kinerja sepak bola nasional,“ ungkapnya.

Dekan FIK UNY, Prof. Wawan S. Suherman mengatakan, peningkatan kemampuan professional dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan era disrupsi dan persaingan global. “Pengembangan kemampaun professonal untuk memenuhi tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat terus dilakukan dengan pelaksanaan kegiatan pertukaran dosen atau mahasiswa, guess lecturing and stadium generale, studi banding, seminar nasional dan internasional, workshop dan pelatihan,“ ungkapnya. (KenFitriani/Radio Edukasi/ BPMRPK Kemdikbud)

 

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar