Berita Pendidikan

Rektor UII: Indonesia Butuh Politik Gagasan

Yogya (RE) – Memasuki tahun politik pada Pemilihan Presiden 2019, media sosial maupun media informasi lainnya riuh akan percakapan dan perdebatan kedua kontestan capres dan cawapres. Bahkan, perdebatan tersebut tak jarang merembet ke dunia nyata. Oleh sebab itu, Indonesia perlu memperkuat politik gagasan berbasis big data. “Sudah terlihat adanya polarisasi yang semakin mengeras, baik di kalangan masyarakat maupun warganet di media sosial. Sayangnya, polarisasi tersebut dibangun di atas semangat politik kelompok atau identitas. Itu sebabnya, kita perlu politik gagasan berbasis big data. Dan kami menindaklanjutinya dengan peluncuran Drone Emprit Academic (DEA),“ kata Rektor Univeristas Islam Indonesia, Fathul Wahid, Ph.D, di kampus setempat, Minggu (14/10).

Menurut Fathul, politik yang hanya digunakan untuk kepentingan kelompok atau perjuangan identitas tidak akan menjanjikan perbaikan bagi masa depan Indonesia. Sebab, kemenangan salah satu kandidat capres dan cawapres dalam Pilpres 2019 dapat menimbulkan permusuhan diantara kedua pendukung. “Seharusnya Pilpres ini menjadi kemenangan bagi Indonesia. Karenanya politik gagasan ini menjadi penting dikedepankan sejak dini,“ jelas Fathul.

Salah satu penggagas DEA, Ismail Fahmi mengatakan, warganet masuk dalam perangkap politik identitas karena tidak menggunakan data dengan baik dan maksimal. Setiap warganet di media sosial dapat saja ikut dan tersangkut oleh arus besar opini yang digulirkan. Padahal, opini tersebut belum tentu dimunculkan berdasarkan data. “Penggunaan data untuk membangun gagasan politik yang sehat bisa menjadi jalan keluar. Big data menjadi sumber rujukan atau pembanding, maupun pedoman bagi warganet untuk mengusung politik gagasan. Suatu gagasan harus menggunakan data,“ jelasnya.

Fahmi menambahkan, DEA bekerja sama dengan UII akan menyediakan data yang dibutuhkan oleh penggunanya untuk mengusung kuatnya politik gagasan. DEA dan UII siap memberikan data yang dibutuhkan, terutama oleh kalangan akademisi seperti dosen, peneliti, dan mahasiswa.”Kami ingin akademisi turut ambil peran dan berkontribusi dalam mengusung politik gagasan ini,“ paparnya.

Pengamat media UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Iswandi Syahputra berpendapat bahwa kehidupan politik saat ini sedang mengalami jalan buntu. Hal tersebut disebabkan oleh kuatnya polarisasi warganet dalam beraktivitas politik, terutama yang tercermin dalam percakapan di media sosial saat ini. “Sudah tidak jelas lagi batasan natara informasi yang tidak benar atau hoax, dan informasi yang benar. Orang yang kita kenal benar, juga terkadang terjebak pada informasi hoax. Sementara yang biasa sebarkan hoax, malah sering dianggap benar,“ jelasnya.

Iswandi menambahkan, realitas tersebut dapat membuka kesadaran baru bahwa berpolitik membutuhkan gagasan berbasis data. Sebab, masa depan Indonesia tidak bisa dibangun dari informasi hoax. Salah satu cara untuk mencegah merembetnya informasi hoax adalah melalui politik gagasan yang berbasis. “Dengan data, orang akan belajar melihat kebenaran dari apa yang disajikan, bukan melihat kebenaran dari siapa yang mengatakan,“ ungkapnya. (KenFitriani/ Radio Edukasi/BPMRPK / Kemdikbud)

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar