Berita Pendidikan

INSTIPER Beri 200 Anak Petani dan Anak Buruh Beasiswa D1

Yogya (RE) -  Setiap tahun Institut Pertanian (INSTIPER) Yogyakarta dipercaya oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) untuk mendidik 200 anak petani dan anak buruh tani kelapa sawit. Dari 200 mahasiswa baru tersebut, 28% atau 56 orang diantaranya berasal dari Kepulauan Riau. Pendidikan dan pelatihan kelapa sawit setara Diploma 1 merupakan pendidikan gratis bagi anak petani dan buruh tani kelapa sawit sebagai bentuk kepedulian BPDP-KS terhadap pendidikan anak petani dan buruh tani kelapa sawit, sekaligus menjadi upaya untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni di kebun kelapa sawit.

Beasiswa tersebut termasuk fasilitas tempat tinggal, biaya hidup, bahkan biaya transportasi selama berkuliah. “Anak-anak petani dan buruh kelapa sawit memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, termasuk pendidikan praktis di bidang perkebunan kelapa sawit. Setelah selesai pendiidkan dan pelatihan ini diharapkan mahasiswa dapat bekerja di koperasi petani kelapa sawit, kebun swadaya, kebun mitra, dan industri kelapa sawit, serta menjadi kader-kader petani muda dan pelaksana pembangunan di perkebunan kelapa sawit,” kata Direktur Pendidikan dan Pelatihan Kelapa Sawit setara Diploma 1, Ir. Sri Gunawan, MP, di Grha INSTIPER Yogyakarta, Selasa (30/10/2018) .

Untuk pembelajaran Ahli Pratama, atau setara dengan D1, di INSTIPER Yogyakarta mengacu pada kurikulum pendidikan di Pendidikan dan Pelatihan Kelapa Sawit yang telah disesuaikan dengan kebutuhan kelapa sawit. “Pembelajaran yang diberikan untuk mahasiswa juga disesuaikan dengan materi yang diterima oleh mahasiswa S1, namun waktunya dipadatkan. Kurikulum blok dipilih dan disesuaikan dengan semua pekerjaan di kebun, seperti blok persiapan lahan, blok pembibitan, blok penanaman, blok panen, dan sebagainya,“ papar Gunawan.

Ia menambahkan, beladiri pencak silat juga menjadi mata kuliah wajib untuk mahasiswa D1 sebagai bekal pertahanan diri saat memasuki dunia kerja. Di samping itu, mahasiswa D1 juga harus mengikuti kegiatan Praktek Lapangan dan Magang di perusahaan. “Dengan demikian mahasiswa D1 akan benar-benar siap bekerja saat lulus. Peningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kebun diasah selama satu tahun, dengan didampingi oleh tenaga pengajar dan praktisi di bidang perkebunan kelapa sawit,“ jelasnya.

Sementara itu, Rektor INSTIPER Yoyakarta, Dr. Ir. Purwadi mengatakan, pihaknya akan berusaha mewujudkan harapan Presiden Joko Widodo yang disampaikan dalam acara pembukaan IPOC di Bali, supaya INSTIPER ikut berperan dalam mewujudkan pembangunan perkebunan kelapa sawit berbasis teknologi maju untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), “ Menghadapi revolusi industri generasi 4.0, saat ini INSTIPER Yogyakarta telah melakukan loncatan ke depan melalui transformasi New INSTIPER with Advance Technology (NIwAT). Saat ini INSTIPER Yogyakarta juga telah memiliki AIRICA , yaitu pusat riset dan inovasi kecerdasan buatan di bidang agroindustri, dan juga desain alat mesin perkebunan kelapa sawit, seperti crane grabber dan alat transportasi roda 3 serta alat deteksi kematangan buah dengan Artificial Intelligence (AI). Jadi tidak heran jika INSTIPER saat ini telah mengukuhkan posisinya sebagai PTS bidang pertanian tertua di Indonesia dengan kompetensi khusus di bidang perkebunan dan kehutanan, terutama di bidang perkebunan kelapa sawit,” papar Rektor.

Pada wisuda angkatan ke-2 ini, sebanyak 199 mahasiswa yang berasal dari 18 provinsi di Indonesia dinyatakan lulus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 107 orang telah diterima bekerja di perusahaan kelapa sawit. Pada periode ini, Windy Wigaty mendapat IPK tertinggi yakni 3.86.

Sebelumnya, pada Sabtu (27/10), INSTIPER Yogyakarta juga telah memwisuda 205 mahasiswa sarjana dan pascasarjana. Peraih nilai IPK tertinggi untuk jenjang S1 pada wisuda ini diraih oleh Jony Wijaya dengan nilai IPK sebesar 3.90. Jony Wijaya merupakan penerima beasiswa ikatan dinas dari SMART Planters untuk minat Sarjana Pendidikan Kelapa Sawit (SPKS) Fakultas Pertanian. Sedangkan pada Magister Manajemen Perkebunan Kelapa Sawit, IPK tertinggi diraih oleh Nurcahyono, dengan nilai 3.84. (KenFitriani/Radio Edukasi/BPMRPK Kemdikbud)

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar