Artikel

Spocial, Antar Ferdinad Meraih Juara

Satu bukti lagi, ternyata gawai, smartphone, tak harus berdampak negatif bagi penggunanya. Berkat kreativitas, inovasi dan kejeliannya dalam menggunakan gawai tersebut, seseorang bisa meraih prestasi.

Bulan Juli 2018 menjadi momen yang sangat membanggakan bagi Bonnie Ferdinand Akbar, biasa dipanggil Ferdinand, seorang pelajar kelas XII SMA N 10 Yogyakarta. Pasalnya, saat itu ia berhasil meraih medali emas di ajang Sagasitas Research & Exhibition bidang kewirausahaan tahun 2018. Sebuah ajang kompetisi penelitian yang digelar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga  DIY. Hal itu ia ungkapkan saat mengisi program live “Prestasi Anak Negeri” di Radio Edukasi Kemdikbud, pada hari Rabu 10 Oktober 2018 pukul 14.00 WIB. Pada kesempatan itu Ferdinand menceritakan tentang perasaan bangga dan bahagianya dapat meraih medali emas di ajang tersebut.

“Yang pasti senang banget ya. Apalagi perjuangan ini tidak mudah, benar-benar berat, dari pengajuan proposal yang harus selesai dalam waktu dua minggu dengan 40 halaman, belum lagi untuk membuat prototype dari aplikasi yang saya buat,” ujarnya.

Ferdinand mengungkapkan tentang aplikasi yang dibuatnya dinamai “Spocial” memadukan antara sport dan media sosial.
“Aplikasi yang saya buat itu semacam aplikasi fitness tracking dinamai “Spocial.” Jadi ini memadukan antara sport dengan media sosial, yang aku buat di Android, jadi yang benar-benar bikin inovatif itu ya dari accounting systemnya, dimana kita bisa menghitung aktivitas olahraga kita itu dengan sensor-sensor yang sudah ada di Hp,” katanya.

Ketika disinggung tentang apa yang melatarbelakangi Ferdinad membuat aplikasi Spocial di Android, Ferdinad mengatakan ingin kurus.
“Ya, sebenarnya alasan simpelnya sih ingin kurus. Awalnya pingin kurus, terus olahraga, lari-lari, angkat beban seperti nge-gym. Kok kayaknya data-data yang aku pingin kurus itu kurang, gitu lho. Makanya dengan aplikasi yang aku buat itu bisa mendapatkan data yang akurat dalam berolahraga, berapa kalori yang terbakar, seberapa kecepatnnya, catatan waktunya dan lain-lain,“ katanya.

Selanjutnya Ferdinand menjelaskan tentang persiapan-persiapan yang dilakukan sebelum mengikuti lomba. 
“Kalau dari prototype yang aku buat itu, aku menggunakan software namanya protopaid. Jadi protopaid ini memang aplikasi yang gunanya untuk membuat prototype aplikasi itu. Kalau dijabarin, kita butuh softwarenya, protopaid, Corel, Microsoft Office juga,“ katanya.

Ferdinad  menambahkan tentang kendala-kendala yang dihadapi saat mengikuti lomba. 
“Yang pertama mungkin mepetnya waktu. Mungkin memang sekitar 2 bulan itu dirasa masih kurang, dan kendala lain masalah pembuatan aset ya. Karena saya sendiri, jadi semuanya saya lakukan sendiri dan ini memang cukup melelahkan,” ujarnya.

Lebih lanjut Ferdinad mengatakan dukungan dari keluarga dan juga sekolahnya. 
“Kalau orang tua memang sangat mendukung banget. Kalau di rumah itu aku sama om, dan om itu yang memang lebih ngajari aku ke bidang IT. Jadi betul-betul support banget kalau aku ikut lomba-lomba kayak gini. Sementara kalau guru juga men-support,“ ungkapnya.

Selanjutnya Ferdinand berpesan kepada teman-teman bagaimana caranya meraih prestasi: 
”Ehmm, pesannya mungkin, apa ya. Karena di zaman sekarang, kalau kita bisa bilang generasi Z ya, kita jangan mau dipekerjakan, tapi justru kita yang harus membuat lapangan pekerjaan yaitu dengan berkarya seperti ini. Membuat karya baru, membuat inovasi baru, jadi kita bisa mendapatkan penghasilan dari apa yang kita buat sendiri,” ujarnya. (Yudha Wijasena/ Radio Edukasi/ BPMRPK Kemdikbud)

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar