Berita Pendidikan

Penanganan Stunting dan Gizi Buruk Perlu Dukungan Teknologi Informasi

Yogya (RE) – Indonesia masuk dalam daftar 5 besar dunia sebagai negara penyandang gizi buruk dan stunting terbanyak. Bahkan World Health Organization (WHO) menetapkan batas toleransi stunting maksimal 20% atau 1/5 dari jumlah seluruh balita. Namun faktanya, di Indonesia keadaan stunting pada balita berada pada angka 35,6%, yang artinya sudah melebihi batas toleransi WHO.

Stunting menjadi permasalahan yang sangat perlu diperhatikan. Oleh sebab itu pelayanan perawatan kesehatan menggunakan aplikasi berbantu TI diharapkan dapat meningkatkan akses terhadap makanan, pola asuh, dan pelayanan kesehatan serta meminimalkan segala bentuk malnutrisi. Ini selaras dengan isu yang ada dalam Sustainable Development Goals (SDGs),“ papar Ketua Prodi Teknik Informatika Program Magister FTI UII, Izzati Muhimmah ST, M.Sc, Ph. D, Sabtu (3/11), di kampus setempat.

Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan, ada tiga aspek yang menjadi penyebab gizi buruk dan stunting, yaitu rendahnya akses terhadap makanan, pola asuh, dan pelayanan kesehatan. Permasalahan gizi buruk dan stunting disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh secara normal pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, sehingga anak tumbuh terlalu pendek. Pertumbuhan yang tidak wajar ini disebabkan tidak terpenuhinya gizi seimbang pada anak balita ketika masih dalam kandungan, dan sejak dilahirkan. 

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Pemerintah menargetkan penurunan angka prevalensi stunting dari status awal 32,9% turun menjadi 28% pada 2019 mendatang. Tantangan Pemerintah saat ini cukup besar, karena tingginya angka stunting menjadi indikator tingginya kejadian gizi buruk di Indonesia. 

“Sinergitas multi stakeholder yaitu Kedokteran, Farmasi, dan Teknologi Informasi menjadi perlu dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan ketika pelayanan perawatan kesehatan menggunakan aplikasi berbantu TI untuk menyelesaikan masalah gizi buruk dan stunting,“ jelas Izzati.

Izzati menambahkan, oleh sebab itu Pusat Studi Informatika Medis Program Studi Teknik Informatika, Program Magister Fakultas Teknologi Industri UII Yogyakarta bekerja sama dengan RSU Islam Harapan Anda Tegal dan Fakultas Ilmu Komputer Alma Ata Yogyakarta, memandang perlu dan berinisiatif menyelenggarakan Seminar Nasional Informatika Medis (SNIMed) 2018, sebagai upaya pegembangan keilmuan yang melibatkan bidang Kedokteran, Farmasi dan Teknologi Informasi.

“Mengambil tema Dukungan Teknologi Informasi untuk Pemecahan Masalah di Bidang Kesehatan dan Gizi , seminar ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan berdasarkan best practice dan lesson learned RS dalam hal pelayanan perawatan kesehatan terkait dengan masalah gizi buruk dan stunting,“ ungkapnya.

SNIMed 2018 tersebut disasarkan pada dokter, paramedis, prakitis di bidang farmasi, kesehatan, Teknologi Informasi, akademisi, dosen, dan mahasiswa. Narasumber yang dihadirkan antara lain, Dr. drh. Didik Budijanto, M. Kes, (Kepala Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI), Dewi Susilo, S.Gz, (Ahli Gizi RSU Islam Harapan Anda Tegal - Best practice dan lesson learned RS dalam hal pelayanan perawatan kesehatan dan gizi). (KenFitriani/Radio Edukasi/ BPMRPK Kemdikbud)

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar