Berita Pendidikan

Dakon Ning Ratan, Upaya Merawat Permainan Tradisional

Yogya (RE) - Ratusan anak beserta orang tua pun gurunya berjejer di sepanjang Jalan Kapas, Kota Yogyakarta, Sabtu pagi (24/11/2018). Mereka terlihat piawai memindahkan puluhan biji dari satu lubang ke lubang berikutnya di papan permainan tradisional yang disebut Dakon. Anak-anak dari sejumlah TK dan PAUD di Yogyakarta tersebut merupakan peserta kegiatan Festival Dolanan Tradisional Anak Nusantara. Gelaran bertajuk Dakon Ning Ratan tersebut, diselenggarakan Taman Kanak-kanak (TK) Negeri 2 Yogyakarta dalam rangka merayakan hari jadi ke-33, sekaligus memperingati Hari Anak Sedunia, yang jatuh pada tanggal 20 November 2018.

Ketua Panitia Muhammad Miftahudin menuturkan, perkembangan teknologi ikut mempengaruhi budaya yang ada di masyarakat. Salah satunya, semakin pudarnya permainan tradisional di tengah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Lewat gelaran tersebut pihaknya ingin mengembalikan semangat permainan tradisional, khususnya Dakonan. “Kami wujudkan dalam Festival Dolanan Tradisional Anak Nusantara,” katanya.

Senada dengan Miftahudin, Kepala TK Negeri 2 Yogyakarta, Tri Hariyanti menjelaskan jika perayaan hari jadi sekolahnya memang disuguhkan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. “Biasanya hanya mewarnai gambar, melukis,” katanya. Namun tahun ini pihaknya lebih ingin melestarikan permainan tradisional seperti Dakonan yang merupakan warisan budaya yang dimiliki masyarakat Indonesia, khususnya Yogyakarta.

Hadir sebagai pihak yang meresmikan acara, Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam X, menyampaikan apresiasinya terhadap gelaran yang baru pertama kali diadakan itu. Dirinya mengamini jika perkembangan teknologi menjadikan permainan tradisional semakin tergeser. Anak-anak sekarang lebih memilih bermain gawai ketimbang permainan warisan leluhur tersebut. Padahal, lanjut GKBRAA Paku Alam X, permainan tradisional mengajarkan banyak hal yang berkaitan dengan perkembangan anak, mulai dari aspek kognitif, emosi, sosial, motorik, bahasa serta karakter.

Anak-anak yang dibiasakan bermain gawai, justru akan membentuk pribadi yang kecanduan dan cenderung berbahaya bahkan lambat laun anak akan tumbuh menjadi individu yang egois. “Mematikan rasa empati dan perkembangan bersosialisasi,” ujar GKBRAA Paku Alam X.

Sementara itu Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, menghimbau agar anak tidak sekadar dikenalkan pada teknik bermain, melainkan diajarkan pula nilai filosofis yang terkandung di dalam permainan tradisional.“Yang paling penting sebenarnya mengajarkan filosofinya, dan permainannya adalah praktik dari filosofi itu,” pungkasnya. (Mujaeni/Radio Edukasi/ BPMRPK Kemdikbud) 

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar