Berita Pendidikan

Presiden Joko Widodo Hadiri Milad Satu Abad Muallimin Muallimaat Muhammadiyah di Yogyakarta

Yogya (RE) - Presiden Joko Widodo menghadiri Resepsi Milad Satu Abad Mu’allimin Mu’allimaat Muhammadiyah, Kamis pagi (6/12/2018) di Madrasah Mu’allimin. Keberadaan Madrasah Mu’allimin merupakan madrasah tertua di Indonesia yang melahirkan tokoh-tokoh besar. Presiden Jokowi mengapresiasi kiprah Madrasah Mu’allimin Mu’allimaat yang ke-100 tahun. “Sungguh merupakan kebanggaan bagi saya dapat turut memperingati satu abad kiprah Mu’allimin Mu’allimaat, bagi agama, bagi bangsa, bagi negara, bagi rakyat,” paparnya saat memberikan sambutan di depan ribuan pelajar Mu’allimin Mu’allimaat (Kamis,6/12/2018).

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi menanggapi tentang akan dibangunnya kampus terpadu Mu’allimin di Sedayu dengan memerintahkan Menteri BUMN untuk secepatnya memulai pembangunan. Presiden bercerita tentang pentingnya membangun infrastruktur sebagai mobilitas orang dan barang agar cepat. “Artinya dari sisi ekonomi memang infrastruktur itu diperlukan dalam rangka bersaing dan berkompetisi dengan negara lain,” tegasnya.

“Sebagai sebuah negara besar, kita harus tahu kita memiliki 17.000 pulau, 34 provinsi, 514 kabupaten dan kota harus disambungkan dan harus ada konektivitas, sambung-menyambung. Membangun insfrastruktur bukan hanya masalah ekonomi, namun urusan persatuan Indonesia sebagai bangsa yang besar,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir berpesan untuk menjadikan momentum satu abad menjadi tonggak sejarah melakukan transformasi kualitas, sehingga dari kampus akan lahir kader bangsa, kader untuk kemanusiasn universal, kader umat, kader perserikatan. Kader tersebut diharapkan mempunyai karakter akhlakul karimah, dengan  ilmu yang mencerahkan hati dan fikiran, bukan hanya agama dijadikan aksesoris luar, namun agama yang membentuk keadaban diri.

“Khusus Mu’allimat, sebagaimana Aisyiyah merintis sebagai gerakan perempuan pertama di republik ini, yang telah melahirkan Kongres Perempuan I tahun 1928, maka dari rahim Mu’allimat harus lahir perempuan muslim Aisyiyah baru yang menjadi pelopor peradaban,” tambahnya.

Mantan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif yang hadir memberikan tausiyah turut mengungkapkan bahwa sesuai dengan tugas negara mencerdasakan kehidupan bangsa, bahwa jika negara membantu Muhammadiyah, maka negara turut membantu dirinya sendiri. 

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X mengungkapkan bahwa Madrasah Mu’allimin Mu’allimaat merupakan tempat pemurnian dan pembaharuan Islam dilahirkan. ”Tema Diaspora Kader Melintasi Zaman" menunjukkan bahwa Muhammadiyah melintasi zaman, simbol anak panah memiliki makna ksatria yang siap memanah, membuat ancangan, membidik dan melepas anak panah menuju sasaran bidik yg tepat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi mengundang dua siswa dari Mu’allimin Mu’allimaat untuk menjawab pertanyaan tentang manfaat pembangunan infrastruktur dan beragam suku bangsa. Hadir dalam kesempatan tersebut Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri BUMN, Menteri Sekretaris Negara dan tokoh-tokoh Muhammadiyah. (Iin Nurmalia/ Radio Edukasi/ BPMRPK Kemdikbud).

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar