Artikel

Wisata Penambah Wawasan di Situs Liyangan

Yogya (RE) - Indonesia memang sudah dikenal dengan banyak situs peninggalan sejarah di dalamnya, bahkan salah satu keajaiban dunia Candi Borobudur berada di Indonesia. Tak hanya itu, di Indonesia juga terdapat situs peninggalan sejarah lainnya seperti Situs Liyangan yang berada di Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Situs yang dikabarkan lebih tua umurnya dari candi Borobudur ini berada di lereng Gunung Sindoro di ketinggian 1.200 m. Namun Situs Liyangan sendiri bukanlah sekedar bangunan candi peninggalan sejarah, namun sudah ada sejak abad ke-2 sebelum agama Hindu maupun Budha masuk ke Indonesia. Situs Liyangan memiliki 3 area dimana pada masanya area tersebut digunakan untuk pemukiman pemujaan terhadap roh nenek moyang, lalu ada tempat hunian, dan area pertanian. Tak heran jika kehadiran Situs Liyangan menjadi bukti bahwasannya pada masa itu nenek moyang sudah berkehidupan maju. Mulanya bangunan di Situs Liyangan terbuat dari batu-batu kali yang disusun, kemudian memasuki abad ke-6 dan 7 Situs Liyangan diganti dengan blok-blok batu seperti candi.

Bahkan kemajuan peradaban leluhur saat itu adalah mereka berani untuk tinggal 8 km dari puncak Gunung Sindoro yang masih aktif, dan ketika Gunung Sindoro meletus tidak ditemukan korban jiwa. Para leluhur sudah dapat mengenali tanda-tanda bencana jika gunung akan meletus. Hal itulah yang menjadi latar belakang penelitian di Situs Liyangan saat ini, lewat wawancara dengan Sugeng Riyanto selaku Kepala Balai Arkeologi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam talkshow Edu Publik di Radio Edukasi pada Jumat, 7 Desember 2018. Beliau mengungkapkan, masyarakat diajak untuk belajar bersama mengenai situs peninggalan leluhur ini melalui Rumah Peradaban Situs Liyangan 2018.

Rumah Peradaban Situs Liyangan 2018 merupakan bagian dari program Balai Arkeologi Yogyakarta yang diselenggarakan pada tanggal 9-11 Desember 2018 di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Acara ini memiliki 2 program utama yaitu Pelitan Arkeologi yang berisi pengetahuan dan informasi mengenai kebudayaan dan peradaban masa lalu, kemudian terdapat rumah peradaban untuk pemasyarakatan. Dalam targetnya, Rumah Peradaban Situs Liyangan ingin mengungkap, memberikan makna kemudian mencintai Situs Liyangan itu sendiri. Acara ini terbuka untuk masyarakat luas.Ttak hanya itu, Situs Liyangan juga dibuka untuk pendidikan karena di dalamnya terdapat 3 aspek utama yang bergerak di bidang pendidikan, yaitu destinasi destinasi pendidikan, pembuatan alat peraga pendidikan dan penyusunan buku pengayaan pendidikan. Di sini juga terdapat replika rumah masyarakat Mataram Kuno yang dibangun oleh pemerintah desa, didukung oleh Pemda Kabupaten Temanggung. Anak-anak sekolah juga dapat mengikuti workshop berupa pengenalan Situs Liyangan dan juga bagaimana cara pemeliharaan dan pengamanan sebuah situs peninggalan zaman dahulu. Terdapat pula produk peraga pendidikan berupa poster tentang memahami candi, film dan media interaktif lainnya. 

Meskipun acara ini dibuka hanya pada tanggal 9-11 Desember 2018, Situs Liyangan akan tetap buka untuk pengunjung yang ingin mengetahui sekaligus melihat langsung bagaimana peninggalan peradaban zaman dahulu. Bagi masyarakat yang ingin mengunjungi Situs Liyangan, saat ini belum dikenakan biaya tiket masuk, namun karena situs ini dirawat dan bekerja sama dengan masyarakat sekitar yang menyediakan lahan parkir, maka masyarakat cukup membayar parkir kendaraan saja. (Alma Asyifa/RadioEdukasi/ BPMRPK Kemdikbud)

Disarikan dari program talskhow Edu Publik yang siar di Radio Edukasi pada hari Jumat, 7 Desember 2018 pk. 14.00-15.00 WIB.

Narasumber: Sugeng Riyanto (Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta)  

This post has 1 Comments

  1. OmFunky | Senin, 28 Januari 2019

    Anjiang

Kirim Komentar