Berita Pendidikan

Perilaku Merokok dan Tantangan Promosi Kesehatan

Yogya (RE) - Perilaku merokok sudah dianggap sebagai penyakit kecanduan akibat zat. Saat ini perilaku merokok sudah masuk dalam daftar International Classification of Disorder (ICD) 10 dan Diagnostic and Statistics Manual of Mental Disorder (DSM) V. Indonesia menempati posisi keempat dengan jumlah perokok terbanyak di dunia, dengan peringkat ketujuh tertinggi di dunia untuk jumlah populasi perokok. Hal tersebut yang mendorong penyakit kecanduan rokok menjadi tantangan penggiat pelayanan kesehatan, terutama layanan promosi kesehatan. Promosi kesehatan merupakan proses untuk mendorong orang meningkatkan keadaan kesehatanya.

Pendalaman keilmuan, pengajaran, serta kegiatan terkait pengendalian tembakau di Indonesia, yang telah digeluti selama lebih dari 20 tahun, berhasil mengantarkan Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D. mencapai gelar akademis tertinggi sebagai ilmuwan sosial perilaku yang memperoleh gelar Guru Besar di Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan untuk pertama kalinya di Indonesia.

Kepala Departemen Perilaku Kesehatan Lingkungan dan Kedokteran Sosial, Fatwa Sari Tetra Dewi mengungkapkan Prof. Yayi Suryo merupakan ilmuwan sosial pertama yang dimiliki oleh Fakultas Kedokteran UGM. “Dengan adanya ilmuwan yang mempunyai latar belakang sosial tersebut, diharapkan FK UGM akan lebih membangun etika professional yang tinggi dalam kemampuannya berkomunikasi pada semua lulusannya,” ujarnya saat konferensi pers di Ruang Eksekutif KPTU FKKMK UGM, Rabu (14/7).

Sementara itu, Yayi Suryo mengungkapkan kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor resiko Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia yang menjadi penyebab utama kematian, seperti jantung dan kardiovaskuler. “Pada tahun 2016 lalu, kelompok diagnosis penyakit jantung kardiovaskuler memberikan beban Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebesar Rp7,4 triliun,” ujarnya. Beberapa faktor resiko lain juga disebabkan oleh kurangnya kebiasaan berolahraga, serta kurangnya mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran.

“Saat ini hanya 6% masyarakat Indonesia yang baru menyadari pentingnya makan buah dan sayur. Sementara kebiasaan berolahraga juga belum menjadi prioritas menjaga kesehatan,” tambahnya.

Prof. Yayi Suryo juga menginisiasikan kampung dan rumah bebas asap rokok di Kota Yogyakarta. “Sekarang sudah ada 130-an rumah dan 40 kampung yang mendeklarasikan bebas asap rokok, yang artinya setiap anggota keluarga yang merokok tidak boleh di dalam rumah,” ujarnya. Gerakan bebas asap rokok yang dilakukannya sejak tahun 2006, setidaknya berhasil menurunkan jumlah perokok, meskipun secara perlahan. (Iin Nurmalia/ Radio Edukasi/ BPMRPK Kemdikbud)

l

 

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar