Artikel

Yuk, Intip Sejarah Ujian Nasional

Bulan Maret  hingga April tahun ini menjadi bulan yang cukup sibuk untuk bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, pada bulan-bulan ini ada beberapa hajat besar yang diselenggarakan negeri ini, mulai dari pemilihan presiden (pilpres) yang bersamaan dengan pemilihan umum legislatif (pileg) dan ada juga hajat tahunan bagi dunia pendidikan berupa ujian nasional bagi siswa sekolah.

Dan yang disebut terakhir merupakan topik bahasan penulis dalam artikel kali ini. Tercatat pada tanggal 25 – 28 Maret 2019 merupakan jadwal ujian nasional bagi siswa kelas 3 SMK. Lalu dilanjutkan jenjang SMA sederajat yang dilaksanakan pada 1 – 4 April 2019. Sedangkan jadwal ujian nasional bagi siswa SMP sederajat adalah pada tanggal 22 – 25 April 2019, dan terakhir untuk ujian SD sederajat, jadwalnya menyesuaikan kebijakan daerah masing-masing.

Ujian nasional sudah diberlakukan di Indonesia mulai tahun 1950 dan beberapa kali berganti sistem serta format ujian. Seperti apa perjalanan sejarahnya? Berikut sejarah singkat perjalanan ujian nasional di Indonesia yang dirangkum dari berbagai sumber.

  1. Periode 1950 – 1965

Pada periode ini, ujian nasional disebut dengan Ujian Penghabisan. Materi ujian dibuat oleh Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang menerapkan format ujian yaitu seluruh soal dikerjakan dalam bentuk esai atau isian.  Hasil ujian diperiksa di pusat rayon yang telah ditentukan.

  1. Periode 1965 – 1971

Pada periode ini, ujian nasional disebut dengan Ujian Negara. Waktu dan materi ujian ditentukan oleh pemerintah pusat. Bahan ujian adalah seluruh mata pelajaran. Artinya materi yang diuji adalah semua mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa didik.

  1. Periode 1972 – 1979

Pada periode ini, pemerintah pusat hanya menyusun pedoman dan panduan ujian nasional yang bersifat umum. Penyelenggaraan ujian nasional dilakukan oleh masing-masing sekolah atau atau sekelompok sekolah dengan waktu dan materi yang dapat disesuaikan. Dengan demikian materi dan hasil ujian dilakukan masing-masing sekolah atau kelompok.

  1. Periode 1980 – 2001

Pada periode ini, ujian nasional disebut dengan EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) dan EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir). Kelulusan siswa ditentukan oleh kombinasi nilai EBTANAS yang dikoordinasi oleh pemerintah pusat dan EBTA yang dikoordinasi oleh pemerintah daerah serta ditambah nilai ujian harian yang tertera di buku rapor. Pada periode ini dikenal dengan DANEM (daftar nilai ebtanas murni) yaitu hasil nilai ebtanas apa adanya. Namun kelulusan berdasarkan nilai rata-rata seluruh mata pelajaran yang diujikan meskipun ada siswa yang mendapat nilai dibawah tiga pada mata pelajaran tertentu.

  1. Periode 2002 – 2004

Pada periode ini, ujian nasional disebut dengan Ujian Akhir Nasional (UAN) menggantikan Ebtanas. Standar kelulusan UAN setiap tahun berbeda-beda.

Pada UAN 2002 kelulusan ditentukan oleh nilai mata pelajaran secara individual. Sedangkan pada UAN 2003 standar kelulusan adalah 3.01 pada setiap mata pelajaran dan nilai rata-rata minimal 6.00. Soal ujian dibuat oleh Depdiknas dan pihak sekolah tidak dapat mengangkat nilai UAN. Para siswa yang tidak/belum lulus masih diberi kesempatan mengulang selang satu minggu sesudahnya.

Terakhir pada UAN 2004, kelulusan siswa didapat berdasarkan nilai minimal pada setiap mata pelajaran 4.01 dan tidak ada nilai rata-rata minimal. Pada mulanya UAN 2004 ini tidak ada ujian ulang bagi yang tidak/belum lulus. Namun setelah mendapat masukan dari berbagai lapisan masyarakat, akhirnya diadakan ujian ulang.

  1. Periode 2005 – 2012

Pada periode ini,  ujian nasional disebut dengan Ujian Nasional (UN) menggantikan Ujian Akhir Nasional (UAN).  Standar kelulusan Ujian Nasional (UN) setiap tahun juga berbeda.

  • UN 2005 minimal nilai untuk setiap mata pelajaran adalah 4.25.
  • UN 2005 para siswa yang belum lulus pada tahap I boleh mengikuti UN tahap II hanya untuk mata pelajaran yang belum lulus.
  • UN 2006 standar kelulusan minimal adalah 4.25 untuk tiap mata pelajaran yang diujikan dan rata-rata nilai harus lebih dari 4.50 dan tidak ada ujian ulang.
  • UN 2007 ini tidak ada ujian ulang. Dan bagi yang tidak lulus disarankan untuk mengambil paket c untuk meneruskan pendidikan atau mengulang UN tahun depan.
  • UN 2008 mata pelajaran yang diujikan lebih banyak dari yang semula tiga, pada tahun ini menjadi enam.
  • UN 2009 standar untuk mencapai kelulusan, nilai rata-rata minimal 5.50 untuk seluruh mata pelajaran yang di-UN-kan, dengan nilai minimal 4.00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4.25 untuk mata pelajaran lainnya.
  • UN 2010 standar kelulusannya adalah, memiliki nilai rata-rata minimal 5.50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4.0 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4.25 untuk mata pelajaran lainnya. Khusus untuk SMK, nilai mata pelajaran praktek kejuruan minimal 7.00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN.
  • UN 2011 dan 2012 Nilai kelulusan siswa masih tetap yaitu 5,5. Begitu juga soal tetap dibagi dalam enam macam paket, yakni lima soal utama dan satu cadangan bila ada soal tak lengkap atau rusak.

 

Itu dia sejarah singkat perjalanan ujian nasional dari 1950 – 2012, seperti diketahui setelah tahun 2012 konsep ujian nasional tidak mengalami perubahan berarti hingga sekarang. Hanya saja yang paling menonjol adalah jika nilai hasil ujian tidak lagi mutlak digunakan sebagai kriteria kelulusan seorang siswa. Terlepas dari kesan positif maupun negatif atas pelaksanaan ujian nasional, semoga berbagai sistem ini menjadi sebuah sistem terbaik yang mampu melahirkan pribadi-pribadi berkualitas unggul dan berkarakter.

(Ari Arjuna/ Radio Edukasi/ BPMRPK/ Kemendikbud)

Referensi:

  • https://un.kemdikbud.go.id/
  • wikipedia.com
  • www.padamu.net

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar