Berita Pendidikan

Polri Akan Tindak Tegas Pelanggar Lalin Fatal

Yogya (RE) -  Meski Korps Lalu Lintas tak kurang-kurang melakukan sosialisasi dan tindak preemtif, namun jumlah korban meninggal dunia dari tahun ke tahun semakin bertambah. Ironisnya, korban meninggal tersebut banyak berasal dari kaum milenial.

“Polri akan tindak tegas pelanggar lalu lintas yang berakibat fatalitas, hingga menimbulkan korban jiwa,“ jelas Kasubdit Penegakan Hukum Ditlantas Polda DIY, AKBP Heru Setiawan SH, di kampus terpadu UII, Selasa (30/4).

Ada beberapa jenis pelanggaran lalu lintas yang berakibat fatal, yakni meliputi berkendara tanpa menggunakan helm, melawan arus, melanggar lampu merah, mengendarai di bawah pengaruh minuman keras dan narkoba, di bawah umur, dan berkendara dengan tidak konsentrasi, misalnya karena menggunakan telepon genggam. “Kami tidak akan toleran dengan pelanggaran lalu lintas jenis tersebut. Pasti kami akan tindak tegas, karena memperbesar kemungkinan menelan korban jiwa lebih besar,“ papar Heru.

Dalam tren tiga bulan pertama ini, jumlah lakalantas dengan korban meninggal dunia akan bertambah dibandingkan tahun lalu. “Rata-rata korban yang meninggal dunia berusia 1-35 tahun, yang merupakan usia produktif. Ini ironis sekali,“ ungkap Heru.

Hingga bulan Maret 2019, sudah terdapat 1.381 kasus, dengan 117 orang meninggal dunia. Sebagai pembanding, pada tahun 2018 lalu jumlah kasus yang tercatat 4.668 kasus, dengan 446 orang meninggal dunia. “Kami sudah melakukan tindakan prefentif. Seperti melakukan ceramah-ceramah ke sekolah, tapi dengan data tersebut, kemungkinan kecelakaan belum berkurang,“ tambah Heru.

Sementara itu, Kanit Human Capital dan Umum PT. Jasa Raharja Cabang Yogyakarta, Ahmad Arkan Nugraha mengatakan, pendidikan orangtua terhadap anak-anak merupakan hal utama untuk dapat menekan angka kecelakaan lalu lintas.

Ketua Prodi Teknik Industri Program Magister FTI UII, Winda Nur Cahyo menyatakan, penyebab kecelakaan lalu lintas dapat dilihat berbagai aspek, diantaranya adalah kondisi fisik, psikis, kondisi mesin atau kendaraan. “Selain itu, desain lingkungan kerja seperti dashboard kendaraan, penempatan lokasi rambu lalu lintas, hingga kebijakan berkaitan dengan beban pekerjaan yang melibatkan aktivitas berkendara,“ paparnya. (Ken Satyabama/ Radio Edukasi/ BPMRPK)

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar