Artikel

Yuk, Kenalkan Anak Berinvestasi di Usia Muda

Setiap orang tua pasti ingin anaknya mandiri dan lebih sukses ketimbang dirinya sendiri. Lalu, bagaimana caranya? Yuk, ajarkan anak berinvestasi sejak dini.

Mengajarkan anak investasi dimulai sejak mereka tahu fungsi dan nilai uang, bisa dimulai dengan konsep menabung terlebih dahulu. Sejatinya mengenalkan anak ke investasi itu penting, karena pelajaran keuangan tidak diajarkan di sekolah. Padahal keuangan adalah suatu hal fundamental bagi manusia untuk bertahan hidup.

Tidak ada kata terlalu cepat bagi anak untuk mengerti mengenai keuangan. Menurut Melanie Mortimer, dengan memulai pelajaran investasi dari usia anak 3 tahun, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih siap serta cerdas finansial. Berinvestasi tidak hanya berarti menanamkan uang untuk membeli saham sebuah perusahaan.

Nah, cara mengenalkannya bisa dengan memberikan anak pengetahuan tentang Cash Flow, Saving dan Investasi. Sehingga mereka bisa mempersiapkan tujuan keuangan masa depan yang sesuai dengan profil, kebutuhan dan kondisi keuangan. Awalnya memang dimulai dengan menabung, tetapi ini harus ditambahkan dengan pengetahuan dan cara untuk mengembangkan tabungan sehingga nilainya tidak drop digerus inflasi. Selain itu, hasil investasi akan bermanfaat sebagai alat keuangan membiayai kebutuhan masa depan.

Waktu yang cocok untuk mengenalkan investasi adalah setelah anak menguasai ilmu berhitung tambah kurang kali bagi dengan jumlah yang cukup besar, maka dapat dimulai waktu untuk pembelajaran menabung dan investasi. Hal itu bisa diperkenalkan melalui uang jajan anak, diberikan informasi dan contoh bagaimana menggunakan uang jajan untuk membeli jajanan dan/atau makan siang anak di sekolah. Mulai dari nilai yang harus dibayar serta kembalian. Lalu juga diberikan pengertian bahwa sisa uang jajan dapat ditabung untuk dikumpulkan sampai jangka waktu tertentu, sehingga cukup untuk membeli sesuatu yang diidamkan anak meski masih dalam skala terjangkau.

Kebiasaan ini akan membuat anak terinspirasi untuk memikirkan bagaimana caranya uang bertambah banyak, sehingga cukup membiayai yang diinginkan atau kebutuhan yang lebih besar nilainya.

Pada saat anak sudah cukup usia dan mandiri untuk diberikan uang jajan yang lebih besar, maka bisa mulai diperkenalkan menabung di bank dan bukan celengan lagi. Dengan begitu, akan dapat bunga yang bisa memperbesar nilai saldo, serta fasilitas tarik dana di ATM untuk kepraktisan.

Nah, biasanya saat itu akan timbul godaan manusiawi bagi anak untuk belanja gaya remaja, sehingga akan mengurangi uang jajan. Di sinilah perlunya memberikan pemahaman keuntungan dan kerugian pengelolaan arus kas, serta menjaga agar disiplin menabung tetap terjaga. Pengetahuan ini harus terus dipupuk dan jangan bosan mengulangnya untuk setiap momen. Misalnya jika anak dapat hadiah uang ketika ulang tahun atau ketika hari raya, maka orang tua dapat mengarahkanya untuk ditabung.

Pemahaman yang lebih tinggi bisa dilakukan saat anak sudah SMA atau Kuliah dengan mengenalkan produk investasi yang lebih beragam dengan untung ruginya, misalnya bisa berupa reksadana, logam mulia, saham dan lainnya.

Sebagian besar orang masih menganggap menabung dan investasi adalah hal yang sama karena sama-sama menyisihkan uang. Namun, sebenarnya kedua hal tersebut berbeda. Menabung merupakan kegiatan menyisihkan uang yang dimiliki saat ini agar dapat digunakan kembali di kemudian hari, namun jumlah uang yang diterima di masa depan sama dengan jumlah uang yang ditabung sekarang. Berbeda dengan menabung, investasi merupakan kegiatan menanam uang yang dimiliki saat ini dengan tujuan akan bertambah nilainya di masa depan.

Walaupun topik yang dibicarakan adalah mengenai investasi, tidak ada salahnya untuk berbicara dengan bahasa mereka. Sederhana adalah kunci untuk membuat mereka mengerti dan tertarik. Orang tua tidak perlu menjelaskan risiko dan keuntungan dari masing-masing instrumen investasi. Mulailah dari menjelaskan bahwa investasi adalah cara untuk menghasilkan uang dari sejumlah uang.

Jika ingin menjelaskan mengenai saham, maka dapat dimulai dengan bahasa sederhana bahwa saham adalah investasi yang risikonya tinggi dan sulit diprediksi, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, pasar saham adalah investasi yang kuat karena dalam sejarah nilai saham rata-rata akan naik. Begitu pula dengan surat utang atau obligasi yang dapat dijelaskan dengan bahasa sederhana, dengan begitu anak akan lebih tertarik dan mengerti.

Orang tua dapat memberikan pengertian melalui berbagai media, sebab cara belajar setiap anak berbeda-beda, ada yang belajar menggunakan penglihatan (visual), ada yang belajar menggunakan pendengaran (listening) dan lainnya. Misalnya, seorang anak yang gemar mendengar cerita akan bosan jika harus melihat gambar mengenai investasi. Maka gunakan cara berbeda untuk komunikasi seperti gambar, video, cerita, atau aplikasi smartphone.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan sebuah investasi dan menghasilkan keuntungan yang signifikan dapat memberikan pelajaran di dunia nyata tentang bagaimana uang dapat bertumbuh. Untuk menunjang hal tersebut, dapat dilakukan demonstrasi mengenai kekuatan dari investasi seiring dengan berjalannya waktu melalui sistem bunga majemuk. Ajarkan anak tentang “Rule of 72” atau “Hukum 72”, dimana menurut aturan ini, uang akan bertumbuh menjadi 2 kali lipat dengan laju 72 dibagi dengan persentase keuntungan. Jadi misalkan, anak mendapatkan 3% keuntungan tiap tahunnya, maka uang akan menjadi 2 kali lipat lebih banyak 24 tahun mendatang (72 dibagi dengan 3).

Selain mengajarkan anak tentang cara berinvestasi, perlu juga untuk mengajarkan pentingnya memberi kepada yang membutuhkan. Dengan cara ini, mereka akan lebih sadar bahwa banyak orang di dunia yang membutuhkan sehingga anak paham betul untuk tidak menghamburkan uang.

Dengan berinvestasi sejak usia muda, seorang anak akan menyaksikan pertumbuhan serta merasakan pengalaman naik turun atas investasi mereka. Sehingga mereka akan sadar bahwa volatilitas pasar adalah sesuatu yang normal dan dengan berinvestasi, emosi anak akan lebih stabil nantinya. Jadi, kapan nih mau mengajarkan anak untuk belajar berinvestasi? (Icha Kinanti/ Radio Edukasi/ BPMRPK/ Kemdikbud)

Referensi :

www.orori.com

www.finansialku.com

investasi.kontan.co.id

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar