Artikel

Cegah Pelecehan Seksual, Dimulai Dari Diri Sendiri

Lemah lembut, menjadi karakter yang melekat pada perempuan. Tak jarang hal ini menjadi titik lemah dan dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab. Tindak pelecehan pada perempuan seringkali terjadi karena ia dianggap tak berdaya melawan. 
Dikutip dari web komnasperempuan.go.id dalam Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan 2020 ada 4 poin temuan khusus yang didapatkan, salah satunya adalah dalam kurun waktu 12 tahun, kekerasan terhadap perempuan meningkat sebanyak 792% (hampir 800%) artinya kekerasan terhadap perempuan di Indonesia selama 12 tahun meningkat hampir 8 kali lipat. Namun data di atas masih merupakan fenomena gunung es, dengan banyak kasus  tak terungkap.
Data di atas didapat dari berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani oleh berbagai lembaga negara, lembaga layanan maupun yang dilaporkan ke Komnas Perempuan sepanjang tahun 2019.
 
Walau begitu, nyatanya masih banyak korban kekerasan dan pelecehan seksual justru enggan untuk melapor dan cenderung menyalahkan diri sendiri. Akibatnya, kasus demi kasus makin banyak yang muncul karena kurangnya pemahaman dan penanggulangan atas kejadian kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi. Adanya tekanan sosial, malu, dan lemahnya hukum menjadi pemicu kenapa angka kasus pelecehan dan kekerasan seksual masih terbilang tinggi. Di satu sisi, hal ini juga membuat korban merasa tersudutkan dan tertekan, bahkan hingga depresi.
Nah Insan Edukasi, data tadi bukan berarti membuat kita jadi paranoid ya. Sebagai pribadi, perempuan bisa melakukan pencegahan supaya tindak pelecehan seksual tidak terjadi. Apa saja yang bisa kita lakukan? Yuk, kita kupas bersama.
1. Aware is the key!
Insan Edukasi, kita tidak pernah tahu kapan dan bagaimana pelaku pelecehan seksual akan menyerang korbannya. Jadi usahakan untuk selalu waspada di manapun dan kapanpun. Bukan berarti kita harus jadi super was-was dan curigaan, namun kita perlu tahu apa yang harus kita lakukan ketika ada 'serangan'. Selain itu, mensenjatai diri dengan peralatan untuk membela diri seperti pepper spray yang selalu ada di tas juga bisa menjadi salah satu ide cemerlang.
 
2. Jangan takut untuk speak up dan tegas
Pelaku pelecehan seksual biasanya menyasar korban yang terlihat lemah dan tidak akan melakukan perlawanan. Begitu juga sebaliknya, ketika kita menunjukkan sikap tegas dan tidak takut untuk menolak saat pelecehan terjadi, secara tidak langsung kita pun sudah memotong niat jahat mereka dalam melakukan tindak kejahatan.
 
3. Edukasi orang-orang sekitar tentang betapa pentingnya mencegah terjadinya pelecehan seksual
Kita mungkin sudah aware ya, tapi tidak menutup kemungkinan kalau di sekitar kita masih clueless, takut, bahkan abai untuk tahu mengenai penanggulangan pelecehan seksual ini. Sebab bentuk tindakan ini beragam dengan pelaku yang berbeda pula, bisa orang asing yang ketemu di jalan, bahkan sampai keluarga atau kerabat dekat sekalipun.
 
4. Bantu korban pelecehan seksual
Insan Edukasi, membantu orang-orang yang menjadi korban pelecehan seksual bisa melalui tindakan dan dukungan. Sebab dalam kondisi seperti ini, dukungan menjadi hal yang sangat penting untuk para korban pelecehan seksual, dan bentuknya bisa bermacam-macam sebagai bantuan dalam proses pemulihan fisik dan psikisnya.
Pun bantuan yang berupa tindakan yaitu apabila melihat aksi pelecehan, perempuan harus menolong perempuan lain yang menjadi korban pelecehan, termasuk mendampinginya. Sebab pelecehan bisa menyebabkan trauma, stres hingga depresi.
 
Lalu apa sih yang harus dilakukan, jika menjadi korban pelecehan seksual? Beberapa tips berikut ini semoga bisa bermanfaat.
1. Stop menyalahkan diri sendiri
Menjadi korban bukanlah posisi yang patut untuk disalahkan secara sepihak. Korban pelecehan seksual pun tidak bisa dinilai dari pakaian tertutup atau terbuka, bare face atau full makeup, gemuk atau kurus, dan sebagainya karena hal ini bisa menimpa siapapun.
 
2. When it happens to you
Dan apabila hal ini terjadi pada dirimu, jangan segan dan takut untuk melaporkan kejadian itu. Bisa dimulai dari lingkup yang paling kecil, yaitu keluarga atau orang terdekat.
This might be hard, tapi dengan kita berani speak up maka itu sudah jadi langkah terbaik untuk memberi efek jera pada pelaku agar tidak terjadi pelecehan seksual yang sama. Diam dan tidak melapor justru akan menjadi beban berat yang harus  ditopang sendiri.
 
3. Mencari bantuan
Untuk kamu yang sudah lama menyimpan masalah ini, ada baiknya mencari bantuan dari orang-orang terdekat untuk memberi dukungan, ataupun bantuan psikolog jika kamu merasa membutuhkan dukungan untuk psikis dan mental secara profesional. Dengan begitu, akan jadi lebih tahu langkah selanjutnya untuk memulihkan kondisi pasca musibah yang terjadi.
 
Insan Edukasi, meski menjadi korban, namun tak jarang justru perempuan kerap disalahkan. Umumnya, cara berpakaian yang kurang sopan dianggap mengundang tindak pelecehan. Padahal, menurut Survei Pelecehan Seksual di Ruang Publik di akhir tahun 2018 yang melibatkan 62 ribu orang Indonesia mendapati, pelecehan seksual memang murni terjadi karena niat pelaku. 
Survei yang dilakukan oleh Hollaback! Jakarta, perEMPUan, Lentera Sintas Indonesia, Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta (JFDG), dan Change.org Indonesia itu menyebutkan mayoritas korban pelecehan seksual tidak menggunakan baju terbuka. Survei mengungkap 18 % korban mengenakan celana atau rok panjang, 17 persen berhijab, serta 16 persen mengenakan baju lengan panjang.
Yuk, mulai sekarang berani melawan dan mengungkap, supaya pelaku tidak merasa aman untuk terus melakukan tindakan tersebut. Tunjukkan pada dunia, kita berani!
(Icha Kinanti/Radio Edukasi/BPMRPK/Kemendikbud)
 
Foto ilustrasi : pinterest

This post has 1 Comments

  1. alan tamansa | Selasa, 02 Agustus 2022

    saya tidak ingin ada hal yg menyangkut saya

Kirim Komentar