Artikel

Waspada, Kencing Berdarah

Urine normalnya hanya mengeluarkan zat-zat sisa hasil penyaringan ginjal. Jika ada darah dalam urine, tentu hal itu tidak bisa disepelekan. Kencing berdarah bisa menjadi tanda adanya masalah pada saluran kencing, ginjal, atau prostat. Dalam dunia medis, kencing berdarah dikenal dengan nama hematuria, yaitu kondisi ketika urine mengandung sel darah merah, sehingga berwarna merah muda, merah, atau merah gelap agak kecoklatan.

Hematuria adalah kondisi ketika adanya darah di dalam urine. Secara sederhana kondisi ini disebut dengan kencing berdarah. Urine berubah warna menjadi kemerahan atau sedikit kecokelatan. Terkadang, ada pula darah yang terdapat di dalam urine, meski tidak kasat mata. Kondisi ini sering disebut sebagai hematuria mikroskopik. Darah yang terkandung dalam urine hanya bisa dilihat di laboratorium menggunakan mikroskop.

Hal itu diungkapkan oleh dr. Yuliani Herawati, biasa disapa dr. Ani, seorang dokter  dari Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM Yogyakarta, saat mengisi program bincang-bincang liveRE MEDIKAmelalui Instagram Radio Edukasi Kemdikbud, pada Kamis 17 Desember 2020, pukul 15.00 WIB. Pada kesempatan itu dr. Ani  juga menjelaskan lebih lanjut tentang penyebab Hematuria.

”Iya, penyebabnya banyak juga, nah, Hematuria dari hasil labnya untuk menentukan ke arah mana sih, maka ini penting pemeriksaan dasarnya adalah pemeriksaan urine rutin, dari situ nanti akan ketahuan apakah ada infeksi saluran kemih, atau arahnya ke infeksi ginjal, atau arahnya ada batu saluran kemih, terutama batu ginjal, nah, kalau pada laki-laki ada dua, yaitu kanker prostat, atau pembengkakan kelenjar prostat, dan ini biasanya dialami oleh laki-laki yang sudah lanjut usia, kemudian bisa juga disebabkan oleh peradangan pada saluran uretra sehingga muncul luka dan keluar darah, kemudian bisa juga olahraga yang berlebihan, yang bisa memicu pecah pembuluh darah pada saluran kemih,“ ujarnya.

Selanjutnya dr, Ani menjelaskan  tentang gejala dari Hematuria.

“Iya, gejalanya yang pertama tentu saja urine  berubah warna, kemudian ada gangguan pada saat buang air kecil, misalnya polimiksi atau kencing-kencing terus, atau anyang-anyangan terus, atau tidak bisa bunga air sama sekali, kemudian saat buang air kecil terasa sakit, kemudian pinggang bagian bawah terasa sakit,“ katanya.

Dijelaskan lebih lanjut  tentang orang-orang yang resiko terkena Hematuria.

“Iya, orang-orang yang resiko terkena Hematuria diantaranya orang lanjut usia, kemudian juga faktor keturunan, karena disini terkait masalah kanker atau dalam satu keluarga banyak yang menderita batu ginjal, kemudian orang yang tidak minum banyak, atau orang-orang yang ada gangguan pembekuan darah,“ katanya.

Selanjutnya dr. Ani menambahkan saat kapan harus periksa ke dokter.

“Iya, pertama kalau warna air kencingnya pink atau kuning kecoklatan atau coklat seperti teh, itu harus segera periksa ke dokter, disitu nanti kita cek urinenya secara lengkap untuk melihat dan menentukan langkah selanjutnya,” ungkapnya.

Dijelaskan lebih lanjut  tentang dampak dari penyakit Hematuria.

“Iya, komplikasi, misalnya kanker, kalau tidak diobati akan menyebar, dan akan terjadi Hematuria berulang bisa jadi Hb akan turun, dibawah 7 maka harus transfusi darah, dan tentunya akan dirujuk ke bagian urologi untuk menentukan langkah berikutnya,“ katanya.

Selanjutnya dr. Ani menjelaskan tentang pengobatan penyakit Hematuria.

“Nah, kalau untuk pengobatan itu tergantung penyebabnya apa, misalnya infeksi, atau dari batu, atau dari pembengkakan kelenjar prostat, atau dari sumbatan batu, nah, treatmentnya disesuaikan dengan penyebabnya, kalau penyebabnya karena infeksi, maka diobati dengan antibiotik, kalau misalnya penyebabnya batu, maka kita harus tahu dulu seberapa besar batu itu, kemudian letaknya dimana, apakah perlu ada pembedahan atau tidak gitu, kalau misalnya kanker, harus segera dikonsultasikan kira-kira kankernya sudah menyebar atau belum, jadi nanti akan ada treatmennya sendiri jadi nanti disesuaikan dengan stadium kankernya,” ungkapnya.

Lebih lanjut dr. Ani menjelaskan tentang pencegahan penyakit Hematuria.

”Iya, paling gampang adalah minum air putih dalam jumlah yang cukup 1,5 liter per hari itu minimal, sebetulnya cara mencegahnya itu mudah, dari minum air putih ini kita bisa mencegah sakit ginjal, infeksi saluran kemih, kemudian batu ginjal, hindari berhenti  merokok,” ungkapnya.

Sebelum mengakhiri  wawancara dr. Ani menngingatkan untuk selalu menjaga kesehatan dimasa pandemi ini.

“Iya, saya tidak lelah, tidak bosan untuk mengingatkan 3 M Plus atau 4 M ya, dimasa pandemi ini, mamakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menjauhi kerumunan,“ pungkasnya. (Yudha Wijasena/Radio Edukasi/BPMRPK Kemendikbud)

 

 

 

 

 

This post has 5 Comments

  1. Girindra magandhi fa | Selasa, 22 Februari 2022

    Cara mengatasi

  2. Benny | Minggu, 20 Maret 2022

    Saya kena hematurea/kencing berdarah, di usg ada batu ginjal da kista pada ginjal jg infeksi, bisakah kista ada pd laki2 dan gimana bisa hilangkan kista itu dan keluarkan batu ginjal...

  3. Yeona | Rabu, 29 Juni 2022

    Kak aku br ngalamin tadi waktu buang air kecil trs airnya itu warna merah bercampur dengan air kencing tersebut aku kira darah haid ternyata bukan itu gmn ya kak aku takut ini baru pertama kalinya kak 😥

  4. Gusti randa | Sabtu, 23 Juli 2022

    KK saya mau tanya saya kalo buang air kecil ngeluarin darah pas terakhirnya dan sedikit nyeri tolong penjelasannya 🙏🙏

  5. Zahra | Sabtu, 30 Juli 2022

    Ka aku baru ngerasain buang air kecil trs seperti anyang" An trs pas pagi kya ada darah gtu campur air pipis. Itu gmn ya kak.. Aku bru pertama ngalamin ini dkira aku haid e trnyata bukan.. Knp y kak.. Mnta sarannya kak terimakasih

Kirim Komentar