Artikel

Asah Imajinasi Anak Melalui Permata Nusantara

Permata adalah singkatan dari Permainan dan Cerita Anak Nusantara yang  merupakan sebuah bentuk model audio pembelajaran yang  dikembangkan oleh Pengembangan Teknologi Pembelajaran (PTP) Balai Pengembangan Media Radio Pendidikan dan Kebudayaan (BPMRPK) Yogyakarta. Berbeda dengan Gelaria, model audio Permata lebih fokus pada permainan nusantara yang diperuntukkan untuk anak-anak usia dini, salah satunya Ampar-Ampar Pisang. Hal ini diungkapkan oleh Drs. Aristo Rahadi, M.Pd selaku PTP pada saat mengisi acara Suara Paud Indonesia pada Rabu (10/2/2021) yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Radio Edukasi dan Aplikasi Radio Edukasi. Pada kesempatan itu, Drs. Aristo Rahadi, M.Pd juga mengungkapkan bahwa permainan anak bukan hanya untuk dilestarikan, namun harus digunakan untuk pembelajaran anak-anak, agar lebih mengenal berbagai macam permainan dan cerita dari nusantara. “Dalam permata nusantara ampar-ampar pisang ini mengajarkan nilai yg baik, seperti misalnya tidak boleh curang, tidak boleh mencuri. Jadi dalam setiap permainan ada nilai yang kita kemas dalam media audio pembelajaran yang menarik untuk dimanfaatkan guru untuk media pembelajaaran”, ungkap Drs. Aristo Rahadi, M.Pd. 

Dalam kesempatan yang sama, Rita Nurunnisa, M.Pd yang merupakan Dosen dari IKIP Siliwangi Cimahi Jawa Barat dan Ketua Ikatan Narasumber Instruktur TK Se-Indonesia mengungkapkan, sudah memanfaatkan Gelaria dan Permata Nusantara dalam pembelajaran di sekolahnya karena saat ini pembelajaran berbasis aktifitas. Rita memilih Permata Nusantara Ampar-Ampar Pisang karena sesuai dengan tema Tanaman sebagai bahan pembelajaran. Dalam Permata Nusantara Ampar-Ampar Pisang terdapat 4 Track, yakni berisi tentang pengenalan dan cerita lagu Ampar-Ampar Pisang yang berasal dari Kalimantan Selatan, selain itu juga menjelaskan permainan dan cara bermain, serta menjelaskan lirik lagu dan artinya. Dalam siaran itu Rita juga menjelaskan respon anak-anak saat mendengarkan model audio tersebut. “Anak-anak sangat suka sekali, karena dalam permainan itu memunculkan imajinasi dan kreasi baru, sehingga kita hanya mengikuti imajinasi anak-anak. Di kegiatan PJJ, orang tua menjadi lebih bersemangat karena ada inspirasi untuk kegiatan bermain di rumah melalui cerita”, ungkap Rita.

Pemanfaatan Permata Nusantara ini membuat orang tua menjadi lebih mengenal Radio Edukasi, meskipun model audio ini sudah dikembangkan sejak tahun 2015, dan sudah disosialisasikan ke berbagai TK di Nusantara mulai tahun 2017. Rita juga menjelaskan manfaat yang bisa dirasakan oleh anak saat mendapatkan Permata Nusantara. “Proses yang terjadi saat anak mendengar ampar-ampar pisang, anak akan berimajinasi dengan otaknya, bagaimana mencium aroma pisang, bagaimana anak harus mendengar instruksi, dengan mendengar anak akan berimajinasi, konsentrasi, memperhatikan, menyimak suara, mengingat cerita, dan mengasosiasikan pengalaman mereka”, lanjut Rita. Aristo pun berharap, model audio ini bisa dimanfaatkan, dikembangkan, dimodifikasi, dan diadopsi oleh Guru PAUD agar lebih menarik, kreatif, dan terasa dampaknya bagi kemajuan Pendidikan Anak Usia Dini. Proses pengembangan model audio ini telah melibatkan Guru PAUD, Pakar Pendidikan Anak, Psikolog Anak, dan Ahli Kurikulum dalam bidang PAUD sehingga sudah sesuai dengan kompetensi belajar yang harus dilakukan oleh sekolah TK/Play Grup yang ada di Indonesia. Orang tua atau guru bisa mendapatkan semua model audio pembelajaran melalui Aplikasi dan Website Radio Edukasi.  

Aristo mengingatkan bahwa Permata Nusantara ini hanya media penunjang atau pelengkap, guru harus bisa mengembangkan dan lebih kreatif dalam mengkondisikan kelas. Rita mencontohkan, memanfaatkan model media audio ini bisa menggunakan alat alat dengan barang-barang yg tersedia dirumah, misalnya dengan botol bekas yang diisi dengan pasir, kacang hijau , atau beras untuk mengeluarkan suara atau musik untuk dijadikan instrument. Media belajar yg baik, adalah media yang bisa merangsang imajinasi dan kreatifitas anak. Di akhir acara, Aristo memberikan closing steatmentnya. “Mendidik anak dari masa ke masa selalu berubah teorinya, salah satu cara yang efektif, kita harus melengkapi media pembelajaran dengan model audio PAUD  agar pembelajarannya lebih hidup, menarik, dan lebih sesuai dengan perkembangan teknologi yg ada saat ini. Rita juga berpesan kepada para guru dan orang tua agar terus berkreasi dalam memanfaatkan media pembelajaran yang ada. “Mendengar adalah bentuk penghargaan, kesopanan dan etika dalam berkomunikasi, jadi sebaiknya anak-anak kita dibiasakan dengan media audio”, tutup Rita Nurunnisa, M.Pd. (Rima Ariska/Radio Edukasi/ BPMRPK/Kemdikbud)

 

This post has 1 Comments

  1. Dasa | Sabtu, 10 Juli 2021

    Menarik sekali

Kirim Komentar