Artikel

Mengenal Sastrawan Bali Dan Karya Puisi Bertema Lingkungan

Perkembangan puisi Indonesia di Bali dalam lima dekade terakhir, yaitu dari periode 1970-an sampai 2010-an. Seperti yang dinyatakan oleh Damono bahwa perkembangan puisi Indonesia modern tahun 1970-an merupakan konsekuensi dari dasawarsa sebelumnya, ditinjau dari segi tematik atau pun stilistikanya. Penyair yang menulis tahun 1960-an di Indonesia telah melahirkan puisi-puisi “perjuangan” dan humanisme yang dipengaruhi kuat oleh paham realis sosialis. Begitu pula, puisi-puisi karya penyair di Bali pada tahun 1960-an ini masih berkembang dan berlanjut pada dasawarsa setelahnya, yaitu 1970-an.

Demikian yang terungkap dalam talkshow interaktif Kolase Inovasi, di Radio Edukasi pada Kamis, 18 Februari 2021. Episode kali ini Kolase Inovasi menghadirkan Peneliti Balai Bahasa Bali, Dr. Puji Retno Hardiningtyas dengan tema  “Mengenal Sastrawan            Bali    Dan    Karya  Puisi   Bertema Lingkungan”.

Dalam kesempatan itu Puji mengatakan,”Berdasarkan penelitian yang saya lakukan, saya membagi periodisasi perkembangan puisi Indonesia modern di Bali menjadi tiga, yaitu periode awal 1960-an—1970-an;  periode peralihan 1980-an dan 1990-an; periode mutakhir 2000-an dan 2010-an”.

Sementara untuk pengklasifikasian berdasarkan politik Indonesia, juga pernah dilakukan oleh Prof. Nyoman Darma Putra, dalam bukunya A Literary Mirror balinese reflection on Modernity and Identity in the Tweentieth Century, membagi pembabakan sastra Indonesia di Bali menjadi , yaitu periode Kolonial, periode Revolusi Nasional,  periode Orde Baru, dan  periode Reformasi.

Dalam setiap periode, pembahasan difokuskan pada tiga hal, yaitu   penyair, karya puisi (khususnya antologi yang terbit; antologi bersama atau individu), dan kecenderungan tematik. Data-data untuk menyusun perkembangan puisi Indonesia di Bali diperoleh dari berbagai sumber, termasuk publikasi antologi puisi, publikasi karya di media massa, dan kajian-kajian mengenai sastra Indonesia di Bali, khususnya mengenai tentang puisi.

Selain itu, karya sastra jenis puisi sudah muncul dalam media massa di Indonesia secara insidental sejak tahun 1950-an, seperti tampak dalam majalah Bhakti dan majalah Damai. Namun, hal itu berlangsung sebentar saja. Perkembangan yang berlanjut puisi di Bali terjadi mulai 1960-an sehingga dianggap dekade ini sebagai periode awal.

Seperti diketahui bersama bahwa keberadaan sastra Indonesia di Bali memiliki sejarah yang cukup panjang, begitu pula dengan keberadaan para sastrawannya. Untuk melacak jejak kehadiran sastrawan dalam khazanah sastra Indonesia di Bali, mau tidak mau harus melihat peran lembaga dan kondisi sejarah sastra Indonesia. Alih-alih melihat perkembangan sastra di Indonesia, di wilayah Bali perkembangan sastra Indonesia modern pun mengalami kemajuan dan mulai dikenal secara nasional. Puisi Indonesia modern di Bali telah berkembang sejak sebelum tahun 1920-an hingga sekarang ini dengan liku sejarah yang dapat dilihat dari tahun ke tahun.

Perlu dicatat pula bahwa perkembangan sastra dan sastrawan di Bali pada  tahun 1960-an, sedikit banyak dipengaruhi perkembangan sastra secara nasional. Pada tahun 1950—1965, sejarah kebudayaan Indonesia modern merambah ke wilayah Bali. Polemik kebudayaan Indonesia modern ditandai munculnya gejolak yang dikenal dengan “Peristiwa Manikebu”. Lebih jelas lagi, pergolakan antara Lekra dan Manikebu tersebut tidak sekadar ajang “perdebatan kebudayaan”, tetapi sudah menjadi “prahara kebudayaan”. Pada intinya, sastrawan dan kaum cendekia yang tergabung dalam manifes tersebut tidak dapat menerima premis dasar Marxisme-Leninisme sebagaimana diterima oleh golongan penganut Lekra.

“Perdebatan ideologi seni dan budaya tidak memengaruhi  banyak  kreativitas penyair pada tahun 1960-an. Sebagian sastrawan di era tersebut masih aktif berkarya menulis puisi-puisi yang mengupas potret kehidupan di Bali. Penyair yang masuk dalam Angkatan 60-an di Bali secara umum memiliki paham realisme sosialis dan pendukung humanisme universal. Menifes Kebudayaan, tetap puisi-puisi bertema lingkungan dan perubahan Bali tidak ditinggalkan begitu saja oleh pesyairnya,” imbuhnya.

 

Lebih lanjut Puji menjelaskan, orientasi tematik dalam puisi-puisi periode 1960-an—1970-an lebih memiliki kecenderungan bertema beragam, bervariasi, dan tidak menganut pada satu pokok permasalahan yang terjadi di masyarakat dan di Indonesia. Tentu saja kurun waktu dua puluh tahun 1960-an hingga 1970-an ini cukup memberi peluang kepada penyair di Bali untuk memunculkan beberapa alternatif tematik. Dari bebarapa antologi puisi, baik terbitan secara mandiri maupun bersama, muncul tematik yang cenderung bersifat percintaan, sosial kemasyarakatan, kebudayaan daerah, lingkungan, pembangunan pariwisata, hingga religiositas keagamaan di Bali.

Tema individualisme cukup menonjol dalam dua puluh tahun, seperti tercermin pada puisi “Pikir” Putu Wijaya, “Aku Tiada Tjerita Tentang Kesedihan” Nyoman Resta Sindhu, 1969. Puisi-puisi periode 1960-an hingga 1970-an adalah masa-masa penyair yang masih banyak menulis tentang keindahan alam, peristiwa yang dialami wisatawan, dan masa investor asing mulai masuk di Bali  Misalnya puisi “Kintamani” Faisal Baraas, 1969. Tema humanisme universal atau masalah kemanusiaan secara umum, seperti cinta kasih kepada sesama, kepada lingkungan, dan berfalsafah Pancasila muncul pada puisi-puisi periode 1960-an hingga1970-an. Puisi-puisi periode 1960-an—1970-an merupakan bagian dari periodisasi 1955—1970-an. Pada dekade ini muncul puisi-puisi perjuangan sebagai akibat peristiwa pembrontakan G30S/PKI yang gagal. Puisi perjuangan sering ditulis oleh para penyair tahun 1966. Penyair yang dianggap sebagai pelopor tema-tema perjuangan dan kepahlawanan di Bali tahun 1960-an.

“Jika ditelisik berdasarkan sejarahnya, puisi bertema lingkungan alam di Bali sudah menjadi perhatian serius penyair di Bali,” terang Puji.

Keberadaan komponen keindahan lingkungan hidup dalam puisi Indonesia karya penyair di Bali menempati tiga fungsi, lingkungan alam sebagai pengamalan nilai-nilai kearifan terhadap lingkungan; lingkungan alam sebagai kenangan masa lalu; dan lingkungan alam sebagai tempat dan daya tarik wisata. (Novi/Radio Edukasi/BPMRPK/Kemdikbud)

foto: suarasakingbali.com

 

 

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar