Artikel

Laboratorium Kebhinekaan Kebahasaan : Tonggak Emas Strategi Kebahasaan

Kebhinekaan atau keanekaragaman atau bahkan yang sering disebut dengan multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya. Kebhinekaan bisa tergambar dalam keanekaragaman bahasa yang ada di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Joni Endardi, M.Hum yang merupakan seorang Peneliti Ahli Madya dari Balai Bahasa Yogyakarta, pada saat siaran Kolase Inovasi pada Kamis (4/3/2021) yang disiarkan melalui Live Instagram Radio Edukasi dan Aplikasi Radio Edukasi. Dr. Joni Endardi, M.Hum juga menjelaskan kondisi bahasa yang ada di Indonesia. “Balai bahasa membuat labolatorium kebinekaan kebangsaan untuk mengumpulkan dan menjaga keragaman bahasa di Indonesia yang bisa diakses langsung oleh masyarakat lewat daring dan luring  ”, ujar Joni.

Indonesia sekarang ini sedang mengalamai krisis dan yang paling susah yang terjadi di indonesia sekarang di era teknologi informasi ini adalah saling memahami. Dari 1340 suku bangsa yang ada di Indonesia apabila tidak saling memahami maka jati diri bangsa akan hilang. Sejak dahulu jati diri Indonesia dikagumi maka balai bahasa hadir untuk mengikuti perkembangan dengan Laboratorium Kebhinekaan Kebahasaan. Bahasa dan sastra adalah hal yang berkaitan dan tidak bisa lepas akan tetapi kadangkali bahasa tidak menjadi sesuatu yang menjual, berbeda dari sastra yang berupa puisi yang dibawakan tokoh dan akhirnya mengapresiasi tokohnya. Bahasa juga perlu dikemas dengan lebih menyesuaikan perkembangan zaman dan harus segera dimulai didunia pendidikan di Indonesia. Jangan sampai generasi muda lupa dengan bahasa daerah , dengan fasilitas  yang ada di Laboratorium Kebinekhaan memberikan kemudahan untuk mengakses kosakata karena da lebih dari 200 kosakata dasar dari berbagai bahasa daerah yang dikemas dalam bentuk poster sehingga masyarakat terutama generasi muda akan lebih tertarik.

Hal-hal yang dianggap jadul harus dikemas kembali, dialih wahanakan agar bahasa ini tidak punah. Sesuatu yang membuat bahasa ini punah saat orang tua tidak lagi mengajarkan bahasa kepada anaknya, anak- anak muda yang enggan belajar dan malu dengan bahasa daerahnya sehingga saat tetua yang mengetahui bahasa tersebut  sebagai penutur sudah tidak ada maka bahasa akan punah. Dari laporan jumlah bahasa daerah yang sudah punah di Indonesia mencapai 11 bahasa daerah dan perlu direvitalisasi sedangkan ada sekitar 127 bahasa daerah yang terancam punah, terdiri dari sumatera 5 bahasa, kalimantan 16, Sulawesi 31, Bali dan Nusatenggara 7, Maluku 20, dan Papua 48. Prinsip dan politik bahasa Indonesia itu ada tiga atau dikenal dengan trigatra yang harus tetap dipegang teguh dalam bernegara.

"Pertama adalah penggunaan bahasa Indonesia pada semua lini di negeri ini, kedua adalah pelestarian bahasa daerah dan yang ketiga menguasai bahasa asing sebagai warga dunia," ujarnya. "Jadi di dalam negeri kita tetap melestarikan bahasa Indonesia, bahasa daerah dan penting menguasai bahasa asing sebagai warga dunia," tutup Joni. (Ali Sanjaya/Radio Edukasi/BPMRPK/Kemdikbud)

Foto : istemewa/ canva.com

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar