Artikel

Permata Nusantara Dengan Tema Cing Ciripit

Permata Nusantara adalah media audio yang berisi cerita dan permainan dari penjuru nusantara. Disajikan secara menarik sebagai media alternatif dalam mengenalkan budaya Indonesia. Demikian ungkap Yasinta Kamarati, S.Sos., M.Eng sebagai PTP dari Balai Media Radio Pendidikan dan Kebudayaan (BPMRPK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Yogyakarta saat menjadi narasumber Suara Paud Indonesia, Rabu (31/3/2021).

Hadir juga sebagai narasumber yakni Guru Penggerak dari TK ABA Wonosari IV, Gunung Kidul DIY, Dwi Ristiyani,S.Pd.AUD. Dalam kesempatan itu Dwi,demikian  sapaan akrabnya, mengatakan bahwa sengaja memilih tema Cing Ciripit karena merupakan permainan tradisional yang perlu dilestarikan dan dikenalkan kepada anak-anak sebab mengandung nilai karakter.

“Ternyata judul Cing Ciripit itu membuat kita penasaran, walaupun yang lahir di era 80-90an sudah mengenal ya, tetapi perlu dikenalkan kepada anak-anak. Terlebih di era pandemi sekarang ini kita dibatasi untuk bergaul dan diperbanyak di dalam rumah sehingga media ini saya pilih, karena permainannya simpel asik dan menyenangkan,” ujar Dwi.

Pada kesempatan tersebut, Dwi juga sempat menunjukkan dokumentasi hasilpembelajaran di sekolah. Menurutnya pembelajaran tersebut sangat digemari oleh anak-anak. Saat menceritakan cara penyampaian program tersebut, menurutnya pada awalnya orang tua siswa bertanya-tanya bagaimana permainan cing ciripit tersebut, karena setiap daerah memiliki cara yang berbeda-beda.

“Nah, pada awalnya saya kirimkan yang track 1 sehingga mereka mendengarkan cerita dan cara bermainnya, kemudian anak-anak bisa bercerita. Bahkan ana-anak senang dan bersemangat. Setelah itu mereka berani di dokumentasikan, dan kemudian saya kirim track selanjutnya. Mereka kemudian bisa mempraktekkan bersama keluarga, dan ternyata menimbulkan gelak tawa dan kedekatan dengan anggota keluarga,” ujar Dwi.

Menjelaskan mengenai sasaran dari program ini, Yasinta menjelaskan, sasaran utamanya adalah PAUD untuk anak usia 4-6 tahun. Tetapi pada akhirnya tidak hanya untuk anak-anak PAUD, karena bisa juga untuk anak SD dan untuk kegiatan mengenalkan kebudayaan Indonesia.

“Awalnya kami merasa khawatir, kenapa anak-anak sekarang tidak mengenal permainan tradisional, dan lebih senang tertarik dengan gadget dan permainan dari luar negeri. Kalau dulu kita sering main tradisional ya, padahal fisik motoriknya akan terlatih. Oleh karenanya kami mengembangkan media audio ini,” jelas Yasinta.

Menurutnya, program ini juga sekaligus untuk memupuk rasa cinta tanah air.Jika diperhatikan dalam Cing Ciripit menceritakan mengenai kehidupan di Sunda, sehingga anak-anak akan mengenal bahasa Sunda, dan logatnya. Diharapkan dengan demikian akan merangsang rasa ingin tahu  mereka dengan mendengarkan program tersebut.

Sementara untuk komptensi dasar yang muncul dalam cing ciripit ini, Dwi menjelaskan bahwa semua muncul. “Permata nusantara ada 3 track. Pertama mengenai cerita dan cara bermainnya disitu muncul kognitif 2.2 yaitu rasa ingin tahu tentang permainan tersebut, lalu Sosem 2.7 tentang sikap sabar untuk mendengarkan cerita, Sosem 2.5 tentang rasa percaya diri seperti yang kita lihat tadi anak-anak antusias sekali. Sementara track ke-2 tentang lagu ada percaya diri dan menunjukkan karya seni, di track ke-3 permainan semuanya muncul 1.2 menghargai diri sendiri dan lingkungan sekitar, fisik motorik. Karena saat bermain motorik kasarnya muncul, kemudian kognitif, dan ada kreatif ketika anak-anak bermain di lapangan mengajak teman yang lain ada yang memakai bedak untuk mencoret sebagai hukuman jika jarinya tertangkap,” jelas Dwi.

Pada segmen terakhir beberapa pendengar dan pemirsa siaran SPI memberikan pertanyaan dan dijawab oleh narasumber ber dua. Pertanyaan tersebut diantaranya cara untuk mengondisikan anak yang aktif dan juga untuk memotivasi anak yang pendiam. Dalam kesempatan tersebut Dwi menjelaskan, bahwa untuk mengenalkan media audio ini pihaknya harus mengetahui kondisi emosi anak, sehingga anak mau melakukan permainan dan antusias. Menurutnya, tidak perlu dipaksakan, namun perlu ada motivasi agar mereka bersemangat.

Menutup perjumpaan siang itu, Yasinta menghimbau kepada orang tua dan pendidik PAUD untuk memanfaatkan masa emas anak-anak untuk mengenalkan tidak hanya permainan, namun juga seluruh budaya nusantara agar menjadi pijakan bagi mereka dalam mengambil keputusan maupun menghadapi tantangan kehidupan sesuai dengan bidaya dan adat istiadat Indonesia.

“Permainan ini merupakan aset budaya bangsa yang wajib kita lestarikan dan kita kenalkan kepada anak-anak. Media audio BPMRPK adalah media yang bisa digunakan untuk memperkenalkan permainan ini dengan cara simpel asik dan menyenangkan,” pungkas Dwi. (Novi/Radio Edukasi/BPMRPK/Kemdikbud)

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar