Berita Pendidikan

PPPTK Matematika Gelar ISMatel 2021, Ajang Kupas Kemampuan Literasi Matematika

Yogya (RE) - Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika menyelenggarakan ‘2nd International Seminar on Mathematics Teaching and Learning’ (ISMaTeL), dengan tema: Achieving Higher Mathematical Literacy: Sharing Ideas and Experiences. Lima negara Asia Tenggara hadir saling berbagi inspirasi pembelajaran Matematika. Seminar internasional ini diadakan pada tanggal 26-28 Oktober 2021 di Grand Rohan Yogyakarta, dengan peserta dari kalangan guru, dosen, widyaiswara, dan praktisi pendidikan.

Kepala PPPPTK Matematika, Hari Suryanto menjelaskan, sebanyak 550 peserta mengikuti seminar secara daring yang terdiri dari 496 peserta dalam negeri dan 54 peserta dari luar negeri meliputi Filipina, Kamboja, Malaysia dan Brunei Darussalam.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bekal guru, pendidik atau pemerhati pendidikan untuk memberikan pemahaman terkait pentingnya Literasi Matematika yang perlu dimiliki oleh siswa-siswa sekolah,” papar Hari, saat ditemui di sela kegiatan, Rabu (27/10/2021).

Hari mengungkapkan, pemilihan tema ini pula dilatarbelakangi oleh penguasaan literasi matematika yang harus dimiliki siswa. Hal ini penting karena tidak hanya dalam membantu siswa untuk memecahkan masalah sehari-hari secara lebih efektif, tetapi juga diperlukan untuk mendukung literasi lainnya seperti literasi keuangan dan teknologi.

“Tentunya kami di P4TK terus berupaya mengupdate terkait dengan bagaimana pembelajaran matematika lebih baik lagi, mensupport guru-guru dan saling berkomunikasi dengan para pakarnya dalam dunia pendidikan matematika,” paparnya.

Sementara itu, Koordinator Pokja Peningkatan Kompetensi PPPPTK Matematika, Puji Iryanti menambahkan, pihaknya juga memiliki berbagai progran untuk mendorong literasi matematika, salah satunya yakni Ayo Belajar Matematika (AjarMat). Program tersebut melakukan pendekatan kepada orang tua untuk memberikan pembelajaran terkait matematika dalam kegiatan sehari-hari.

“Jadi orang tua kita berikan wawasan bagaimana mendampingi anak-anak belajar matematika. Anak itu diajari belanja dan bisa membuat keputusan membeli dan membayar barangnya. Itu matematika literasi yang sangat besar hubungannya dengan kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Menurut Puji, pencapaian literasi matematika tetap menjadi isu yang menarik untuk didiskusikan. Melalui ISMaTel kedua ini isu tersebut diangkat untuk dibahas dan digali dalam berbagai perspektif seperti apa konsep literasi matematika.

Salah satu pembicara dari  Calvin Institute Indonesia, Dicky Susanto, Ed.D., menjelaskan perbandingan pembelajaran matematika di Indonesia dan beberapa negara lain. Menurutnya, pembelajaran matematika seringkali fokus pada prosedur dalam pengerjaan soal-soal matematika. Di Indonesia tidak terlalu banyak menekankan penalaran.

“Ngga semua luar negeri juga, tapi seringkali cara yang dulu kan guru memberikan rumusnya, mengerjakan soal-soal. Fokusnya lebih banyak di prosuder, tidak terlalu banyak yang menekankan penalaran membuka kesempatan siswa untuk berkesplorasi,” paparnya.

Dalam literasi matematika, menurut Dicky, perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk bereksplorasi mencoba cara sendiri yang tidak harus meniru cara yang persis dengan yang diberikan gurunya. Para pendidik juga hendaknya mendorong peserta didik untuk percaya diri dan memiliki kapasitas bahwa semua siswa sanggup melakukan terobosan. Siswa juga bisa mengambil resiko untuk mencoba dan diberikan kesempatan melakukan kesalahan dalam hal pembelajaran.

“Melakukan kesalahan itu tidak masalah. Siswa jangan melihat kesalahan itu untuk dihindari. Jadi rasa percaya diri dan mampu itu didorong dari guru. Karena kesalahan itu penting untuk terus membangun rasa percaya diri,” pungkasnya.

 

 

 

Reporter: Arin / Editor: Arik

Foto: Arin

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar