Aktivitas

Trauma Healing BPMRPK Kemendikbudristek untuk Anak-Anak Korban Bencana Erupsi Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur

Lumajang (RE) - Meletusnya Gunung Semeru pada awal bulan Desember yang menimbulkan banyak korban luka maupun meninggal dunia. Pada situasi darurat akibat erupsi Gunung Semeru, tentu juga berdampak pada pendidikan khususnya bagi peserta didik. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang, Drs. Agus Salim, M.Pd., menyampaikan bahwa 24 sekolah tidak dapat digunakan karena bangunan terdampak material vulkanik, 21 sekolah digunakan sebagai tempat pengungsian atau pis pengungsian warga, dan sekitar 2000 peserta didik yang terdampak harus tetap mendapatkan akses pendidikan. Sarana pembelajaran darurat telah diwujudkan dengan mendirikan tenda-tenda kelas pembelajaran darurat untuk semua jenjang pendidikan mulai PAUD, SD, dan SMP. Materi pembelajaran yang disampaikan adalah materi terkait keselamatan, keamanan, perlindungan diri, cara-cara penyelamatan dan evakuasi, termasuk perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan pengungsian. Selain itu, peserta didik terdampak bencana juga harus diberikan dukungan psikososial. Oleh karena itu, Balai Pengembangan Media Radio Pendidikan dan Kebudayaan (BPMRPK) melakukan trauma healing untuk anak-anak korban bencana erupsi Gunung Semeru. 

Trauma healing oleh tim BPMRPK dilakukan pada tanggal 18 Desember 2021. Dalam trauma healing yang terdiri dari anak-anak sekolah dari PAUD dan SD ini diajak untuk bermain game, kuis, mendengarkan cerita dan mengikuti media audio gerak lagu anak ceria (Gelaria) berjudul Cilukba yang telah dikembangkan oleh BPMRPK. Selanjutnya BPMRPK juga membagikan bingkisan pada anak-anak di pengungsian yang bertempat di SMP Negeri 1 Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Semoga dengan trauma healing ini memberikan dukungan psikososial bagi peserta didik di lokasi terdampak erupsi Gunung Semeru. 

(Admin / Radio Edukasi / BPMRPK Kemendikbudristek)

 

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar