Berita Pendidikan

UGM Siap Gelar Kuliah Bauran Mulai Februari 2022

Yogya (RE) - Menindaklanjuti Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri terbaru tentang pembelajaran pada masa pandemi Covid-19, Universitas Gadjah Mada (UGM) siap melanjutkan pelaksanaan Kuliah Bauran, yakni tatap muka daring dan tatap muka luring yang sebelumnya telah diimplementasikan dalam PTM terkendali pada Oktober 2021 lalu.

Kepala Pusat Inovasi Kebijakan Akademik (PIKA) UGM, Hatma Suryatmojo, mengatakan perkuliahan tersebut akan diikuti oleh seluruh mahasiswa UGM. Tidak seperti sebelumnya, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Bauran diprioritaskan bagi mahasiswa angkatan 2020 dan 2021, serta mahasiswa yang membutuhkan praktikum, penelitian, pengabdian masyarakat, maupaun penyelesaian tugas akhir.

“UGM siap menyelenggarakan KBM Bauran yang didalamnya dimungkinkan penerapan PTM 100 persen. Sistem ini akan mulai diimplementasikan mulai semester genap tahun akademik 2021/2022 atau sekitar Februari 2022 dapat dilanjutkan pada semester berikutnya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan,” terang Hatma, melalui keterangan tertulisnya, Kamis (20/1/2022).

Ia menjelaskan, pada pelaksanaan KBM Bauran semester genap mendatang, UGM tidak mengharuskan dosen pengampu kuliah untuk menggelar PTM 100 persen. Namun, hal tersebut bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan capaian pembelajaran.

“Jika dosen pengampu kuliah membutuhkan tatap muka 100 persen dipersilakan, tetapi yang tidak bisa PTM 100 persen tidak menjadi persoalan. Yang menentukan tatap muka di kelas berapa persen itu diserahkan pada dosen pengampu mata kuliah,” ungkapnya.

Dalam kuliah bauran ini, lanjut Hatma, dosen diberi kebebasan untuk merancang pembelajaran bagi mahasiswa. Fakultas dan program studi wajib memberikan kesempatan penyelenggaraan perkuliahan secara bauran.

“Prinsipnya, setiap mata kuliah harus ada porsi tatap muka secara luring yang ditentukan sendiri oleh dosen pengampu mata kuliah. Misal, nantinya ada dosen yang memiliki komorbid yang menjadikan tidak bisa mengajar secara luring akan dibuatkan tim teaching di prodi untuk memberikan pembelajaran tatap muka langsung,” jelasnya.

Menurutnya, kebijakan ini diambil berdasarkan hasil survei pelaksanaan KBM Daring selama satu tahun terhadap dosen dan mahasiswa di UGM. Survei menunjukkan 78 persen dosen membutuhkan pembelajaran secara bauran dan 11 persen lainnya dapat melaksanakan pembelajaran secara penuh. Sementara itu, 86 persen mahasiswa memerlukan pembelajaran secara bauran atau luring penuh dan 14 persen lainnya merasa nyaman dengan pembelajaran daring.

Hatma menegaskan, aspek kesehatan dan keselamatan tetap menjadi prioritas. Penyelenggaraan PTM nantinya dilaksanakan dengan mengutamakan rasa aman civitas akademika UGM, baik mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan serta masyarakat sekitar.

Selain itu, adapun beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain izin mengikuti KBM Bauran dari orangtua bagi mahasiswa berusia dibawah 18 tahun, menunjukan surat keterangan sehat dari unit Kesehatan Puskesmas atau Gadjah Mada Medical Center (GMC), dan telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 minimal dosis pertama.

“Jika terdapat mahasiswa yang belum divaksin, diwajibkan membuat surat pernyataan yang berisi keterangan bahwa yang bersangkutan belum mendapatkan kuota vaksinasi atau tidak bisa divaksinasi karena alasan tertentu (memiliki komorbid). Nantinya mahasiswa yang belum mendapatkan kuota vaksin akan difasilitasi Satgas Covid-19 UGM untuk segera divaksin agar bisa mengikuti PTM luring,” imbuhnya.

 

 

Reporter: Dian / Editor: Arik

Foto: Dok. UGM

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar