Berita Pendidikan

Profil Pelajar Pancasila Dalam Menjaga Kebhinekaan Indonesia

Yogya (RE) - Pada era modern kali ini kehidupan sosial menjadi global. Tidak lagi terbatas oleh sekat wilayah. Hal ini dapat berpengaruh pada perubahan karakter anak-anak Indonesia. Mereka dapat mengakses informasi dunia luar. Sehingga mereka dapat mengetahui kebudayaan dari luar Indonesia lebih mudah. Pengaruh kebudayaan luar bisa berdampak positif dan negatif. Sehingga perlu adanya pendidikan karakter untuk menjaga dari dampak negatif yang muncul, salah satunya perubahan gaya hidup remaja saat ini, yang dianggap tidak berkarakter Pancasila. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan program Profil Pelajar Pancasila.

Kemendikbudristek meluncurkan Profil Pelajar Pancasila sebagai Rencana Strategis Kementerian tahun 2020-2024. Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Dikutip dari laman Kemendikbudristek, Profil Pelajar Pancasila memiliki enam ciri utama, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif.

Salah satu profil Pelajar Pancasila adalah karakter berkebhinekaan global. Kebhinekaan artinya beraneka ragam, bermacam-macam, beragam, dan lain-lain, yang mengarah kepada banyaknya perbedaan dalam kehidupan. Kebhinekaan lebih tertuju pada nilai nasional, yaitu beraneka ragamnya terdapat suku bangsa, ras, agama, budaya, bahasa, dan lain-lain yang ada pada negara Indonesia.

Terdapat tiga elemen dalam pembentukan Profil Pelajar Pancasila yang berkebhinekaan global, yaitu

  1. Mengenal dan menghargai budaya
  2. Kemampuan komunikasi inter kultural dalam berinteraksi dengan sesama
  3. Refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan

Maka pelajar yang memiliki Profil Pancasila yang berkebinekaan global memiliki semangat untuk mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitas dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain. Sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan semakin mempersatukan bangsa.

Penulis: Gita Kurnia Graha / Editor: Arik

Foto: www.panduanmengajar.com

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar